2 Ekor Elang Jawa yang Dilepas di TNGGP Dipasang GPS, Dipantau Pergerakan Hingga Perkembangbiakannya

Dua ekor Elang Jawa itu diberi nama Parama dan Jelita. Keduanya sudah dianggap cukup dewasa untuk dilepaskan ke alam liar.

Editor: Reynaldi Andrian Pamungkas
Istimewa
Taman Nasional Gunung Halimun Salak bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Taman Safari Indonesia serta PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) lepas dua ekor Elang Jawa di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Dua ekor Elang Jawa yang dilepas di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dipantau pergerakan dan perkembangbiakannya, Senin (30/1).

Dalam pelepasannya, Taman Nasional Gunung Halimun Salak bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Taman Safari Indonesia serta PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) mendukung kegiatan tersebut.

Dukungannya itu dikarenakan dua ekor Elang Jawa tersebut merupakan hasil pengembangbiakan di kandang PPLI di kawasan Gunung Halimun Salak.

Kepala Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Sapto Aji Prabowo mengungkapkan bahwa dirinya mengapresiasi PPLI yang merupakan perusahaan pengolah limbah Bahan Beracun Berbahaya (B3) dalam kegiatan tersebut.

"Namun dengan tetap dipasang GPS, alat pemantau pergerakannya," ungkapnya.

Dua ekor Elang Jawa itu diberi nama Parama dan Jelita.

Keduanya sudah dianggap cukup dewasa untuk dilepaskan ke alam liar.

Sementara itu, CSR PPLI, Ahmad Farid mengatakan, walaupun perusahaannya fokus terhadap masalah lingkungan hidup, tetapi tidak lupa akan pelestarian satwa.

"Pelepasan ini merupakan yang perdana sejak kami terlibat dalam pembuatan kandang besar untuk konservasi Elang Jawa di Gunung Halimun Salak," katanya.

Menurutnya, program konservasi itu mampu menelan biaya hingga Rp 300 juta.

"Sejak dua tahun silam sudah terlibat aktif dalam konservasi itu dan terus kita pantau dari mulai perkawinannya, bertelurnya hingga akhirnya dilepas ke alam bebas," jelasnyanya.

Satwa endemik Pulau Jawa ini juga merupakan burung predator yang mirip dengan lambang negara Indoneia.

Bahkan, proses perkawinan Elang Jawa ini, kata Farid terbilang cukup unik.

Baca juga: Jaga Kelestarian, PT Smelting Bersama Taman Safari Indonesia Bogor Lepas Elang Jawa Usia 2 Tahun

"Proses perkawinan burung ini unik dan langka. Mereka kawin disaat terbang di udara, jadi untuk pengembangbiakannya ngga bisa di dalam sangkar kecil seperti burung lain pada umumnya," ungkapnya.

Di kaki Gunung Halimun Salak sendiri, pihaknya membangun kandang raksasa untuk burung tersebut.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved