Mengintip Kondisi Terkini Rest Area Gunung Mas Bogor, Banyak Pedagang Bangkrut?

Terlihat para pedagang di Rest Area Gunung Mas Bogor hanya terduduk di kiosnya masing-masing menunggu pengunjung yang datang.

|
Penulis: Muamarrudin Irfani | Editor: Tsaniyah Faidah
TribunnewsBogor.com/Muamarrudin Irfani
Kondisi terkini Rest Area Gunung Mas yang berada di wilayah Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor usai 6 bulan penertiban pedagang kaki lima (PKL). 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Muamarrudin Irfani

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CISARUA - Kondisi terkini Rest Area Gunung Mas Bogor usai 6 bulan penertiban pedagang kaki lima (PKL) di sepanjang Jalan Raya Puncak.

Sebagaimana diketahui, para pedagang yang lapaknya terdampak penertiban dipindahkan ke dalam Rest Area Gunung Mas yang berada di wilayah Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.

Dengan dipindahkannya mereka ke Rest Area Gunung Mas, akankah mereka malah untung atau justru bangkrut?

Pantauan TribunnewsBogor.com pada Kamis (16/1/2025), kondisi Rest Area Gunung Mas nampaknya belum optimal lantaran kini sangat sepi dari pengunjung yang singgah.

Kios-kios pedagang yang telah ditata rapi dengan dilengkapi oleh lampu hias kelap-kelip pun nampaknya belum mampu menjadi daya tarik.

Terlihat para pedagang hanya terduduk di kiosnya masing-masing menunggu pengunjung yang datang.

Salah satu pedagang, Dede Suhardi mengungkapkan bahwa penjualannya di rest area belum stabil.

"Penjualannya masih belum merata, ada yang udah stabil ada yang belum, kebanyakan sih yang belum, memang kondisinya seperti ini masih sepi belum ada peningkatan selama enam bulan ini," ujarnya.

Dari pantauan TribunnewsBogor.com, dari ratusan kios yang ada di rest area tersebut lebih didominasi oleh kios yang tutup.

Pria berusia 44 tahun itu menyebut penyebab kios yang tutup tersebut tak lain karena dipengaruhi oleh sepinya pengunjung.

Ia pun mengibaratkan kondisi rest area yang saking sepinya dari pengunjung dapat dihitung menggunakan jari.

"Bisa diitung jari lah, akhir pekan cuma malam minggu sama hari minggu, tapi itu juha engga menentu, agak lebih meningkatlah dari yang biasanya," terangnya.

Karena sepinya pengunjung, kata dia, secara otomatis berpengaruh terhadap pendapatannya yang menjajakan makanan dan minuman.

Penghasilannya pun menurun drastis dibandingkan saat dirinya masih berjualan di pinggir Jalan Raya Puncak.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved