Hari Anak Nasional, Orang Tua dan Sekolah Harus Bersinergi Cegah Aksi Kekerasan

Peringatan Hari Anak Nasional selayaknya menjadi pengingat bagi semua bahwa anak-anak sebagai generasi penerus bangsa belum seutuhnya

Tayang:
Editor: Yudistira Wanne
Ist/via Kompas.com
ILUSTRASI KEKERASAN - Pemerhati anak dan keluarga Maharani Ardi Putri mengatakan, pencegahan doktrin kekerasan dapat dimulai di lingkungan keluarga.  

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Peringatan Hari Anak Nasional selayaknya menjadi pengingat bagi semua bahwa anak-anak sebagai generasi penerus bangsa belum seutuhnya bebas dari ancaman intoleransi dan radikalisme

Ancaman ini seringkali dijumpai di beberapa sekolah berbasis keagamaan yang mengajarkan anak didiknya pemahaman intoleran dan radikal. 

Pemahaman akan pentingnya kebhinekaan harus ditanamkan sejak dini pada anak-anak untuk melindungi mereka dari pemikiran yang segregatif.

Pemerhati anak dan keluarga Maharani Ardi Putri mengatakan, pencegahan doktrin negatif dapat dimulai di lingkungan keluarga. 

Orang tua diminta untuk aktif memantau dan memvalidasi apa yang dipelajari anak di sekolah

Ia menyarankan agar orang tua mengajak anak berdialog tentang materi pelajaran, bukan sekadar menerima begitu saja pembelajaran dari sekolah

Dalam pendidikan anak, sekolah memang sebagai mitra bagi orang tua, tetapi tanggung jawab utama pembentukan anak tetap di tangan orang tua. 

Bila ditemukan materi yang meragukan, orang tua diwajibkan berkomunikasi langsung dengan pihak sekolah untuk klarifikasi. 

Maharani juga menekankan pembentukan kemampuan berpikir kritis pada anak sebagai benteng ampuh melawan hoaks dan paham ekstrem. Daripada hanya menanamkan dogma, pendidik harus mengajarkan anak untuk bertanya, menganalisis, dan mengkritik. 

“Apabila anak kita mendapati materi pembelajaran dari sekolahnya yang sekilas terlihat agamis namun sebenarnya mendiskreditkan pihak ataupun golongan tertentu, orang tua perlu hadir sebagai teman dialog bagi anak," bebernya.

"Sebagai orang tua yang bertanggung jawab bagi anaknya, dialog yang sehat akan lebih efektif dalam membentengi anak dari pemikiran intoleransi, ketimbang orang tua hanya melarang secara sepihak saja,” imbuh Maharani.

Dirinya juga bicara soal kemudahan penyebaran intoleransi dan radikalisme melalui media sosial. 

Ekosistem pendidikan, sekolah dan keluarga, harus bersinergi untuk menghadapi tantangan ini. 

Sekolah menyediakan kerangka nilai dan literasi kritis, sedangkan keluarga memberikan teladan nyata dalam kehidupan sehari‑hari. 

Dengan demikian, anak mendapatkan dua lapis perlindungan, yaitu materi pembelajaran yang moderat serta suasana rumah yang menghargai keberagaman. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved