Rupiah Melemah, Harga Tempe di Pasar Jambu Dua Kota Bogor Masih Normal, Tapi Pedagang Pusing

Dia mengatakan bahwa dia tidak berani sembarang menaikan harga tempe yang dia jual karena karena takut kehilangan pelanggan.

Tayang:
Penulis: Naufal Fauzy | Editor: Tsaniyah Faidah
TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy
HARGA TEMPE - Tempe di Pasar Jambu Dua Kota Bogor. Pedagang dibuat pusing dengan kenaikan harga kedelai di tengah melemahnya Rupiah, Rabu (20/5/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Meski Rupiah melemah ke Rp17.600, harga tempe di Pasar Jambu Dua masih bertahan Rp15.000 dan Rp8.000.
  • Harga bahan baku kedelai impor dan plastik pembungkus terus merangkak naik secara perlahan dari toko.
  • Pedagang tidak berani menaikkan harga karena takut kehilangan pembeli dan sesama industri rumahan tidak kompak.

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Di tengah melemahnya Rupiah terhadap Dollar AS hingga menyentuh Rp17.600, harga tempe di Pasar Jambu Dua, Kota Bogor sementara ini masih belum mengalami kenaikan.

Sampai Rabu (20/5/2026), harga tempe per geblek (papan) dihargai Rp 15.000.

Kemudian untuk tempe per geblek kecil dijual Rp8.000.

"Harga tempe masih anger (tak berubah)," kata Slamet (46), salah satu pedagang tempe di Pasar Jambu Dua, Rabu (20/5/2026).

Tempe di Kota Bogor, kata dia, kebanyakan berasal dari industri-industri kecil.

Termasuk Slamet yang juga memproduksi sendiri tempe yang dia jual.

Dia akui bahwa harga bahan baku tempe, yakni kedelai memang mengalami kenaikan harga.

Sebab, kedelai bahan baku pembuatan tempe kebanyakan diimpor dari luar negeri.

"Kedelai sekilo, kalau dari tokonya sekarang ada yang Rp10.500, Rp10.800," kata Slamet yang sudah 26 tahun buka usaha tempe ini.

"Kalau kedelai itu naiknya perlahan-lahan, bukan satu jebret langsung gitu. Kita beli, naik Rp100 perak. Nanti beli lagi, naik Rp200, gitu. Jadi enggak langsung blek gitu," imbuhnya.

Dia mengatakan bahwa dia tidak berani sembarang menaikan harga tempe yang dia jual karena karena takut kehilangan pelanggan.

Sebab pedagang tempe di Kota Bogor tidak kompak menaikan harga karena berasal dari industri-industri kecil yang banyak.

"Aku misalkan naikin harga, yang lain enggak naikin, gimana?. Jadi kalau tukang tempe itu bukan satu PT," kata Slamet.

"Kalau tahu kan enak satu PT, dari atasnya naik, langsung naik semua. Kalau ini (tempe) kan bikin sendiri-sendiri," ujarnya.

Untuk menekan kerugian, dia mengaku sempat berpikir mengurangi bahan baku pembuatannya, namun harga kedelai terus merangkak nik secara perlahan.

"Misalkan kurangi sedikit, sesendok aja, tetap aja enggak ketemu," ungkapnya.

Slamet pun kini hanya bisa jual tempe tanpa untung bahkan rugi karena ikut terdampak kenaikan plastik bungkus tempe.

"Ya rugi. Ya gimana lagi kalau tukang tempe kan enggak kompak, bukan satu PT, di satu pasar itu berapa tangan itu, berapa pabrik, sendiri-sendiri kan," ungkapnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved