Tanggapi Kenaikan Harga BBM, Jusuf Kalla Bantah Paksa Pemerintah Cabut Subsidi: Demi Selamatkan APBN

JK menyebut kenaikan yang mencapai lebih dari 50 persen ini sudah ia prediksi sejak dua bulan lalu berdasarkan hitungan matang.

Penulis: tsaniyah faidah | Editor: Tsaniyah Faidah
istimewa
HARGA BBM - Harga BBM nonsubsidi resmi melambung hingga lebih dari 50 persen mulai Sabtu (18/4/2026), sebuah kebijakan yang disebut Jusuf Kalla sebagai langkah pahit namun tak terhindarkan demi menyelamatkan keuangan negara. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Harga bahan bakar minyak nonsubsidi milik Pertamina resmi naik signifikan mulai Sabtu, 18 April 2026.

Kenaikan ini memicu kekhawatiran masyarakat akan terganggunya daya beli di tengah ketidakpastian ekonomi global yang sedang tidak stabil.

Di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum, harga baru sudah mulai terpasang dengan lonjakan yang cukup drastis.

Untuk wilayah Pulau Jawa, harga Pertamax Turbo kini menjadi Rp19.400 per liter dari harga sebelumnya yang hanya Rp13.100, atau naik lebih dari Rp6.000.

Sementara itu, Pertamina Dex mengalami kenaikan hingga Rp9.400 dari harga lama Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter.

Menanggapi kebijakan ini, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, menilai bahwa kenaikan tersebut merupakan langkah yang tidak terhindarkan.

Ia mengungkap kondisi keuangan negara yang mengalami defisit akibat tekanan ekonomi global.

JK menyebut kenaikan yang mencapai lebih dari 50 persen ini sudah ia prediksi sejak dua bulan lalu berdasarkan hitungan matang terhadap kemampuan fiskal negara.

"Naik BBM hampir lebih 50 persen. Tidak bisa tahan negara ini, keuangannya defisit akan banyak," ujar JK.

Ia menjelaskan bahwa faktor eksternal menjadi pemicu utama lonjakan harga tersebut.

Menurutnya, jika negara tidak menyesuaikan harga BBM, maka defisit keuangan akan semakin besar. 

Ia mencontohkan faktor eksternal yang memicu harga dari Rp14.000 melonjak menjadi Rp24.000, sehingga penyesuaian harga menjadi solusi yang logis.

"Faktor eksternal naik, jadi ada harga saya Rp14.000 dulu naik Rp24.000, naik Rp10.000 per satu liter bayangkan. Kita sudah hitung dua bulan lalu bahwa tidak mungkin keuangan negara tanpa menyesuaikan harga BBM," jelasnya.

Terkait adanya tudingan bahwa dirinya memaksa pemerintah mencabut subsidi.

Ia menegaskan hanya memberikan usul sebagai warga negara demi menyelamatkan APBN.

Baca juga: Penyesalan Warga Tak Isi Full BBM Sebelum Harganya Naik, Masih Ragu Beralih ke Pertamax: Kurang Sreg

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved