Breaking News

Kuliner Bogor

Tanpa Mesin, di Patani Coffee Leuwiliang Bogor Kopi Disangrai Pakai Gerabah dan Bambu

Proses sangrai menjadi bagian paling menarik karena Arifin menggunakan gerabah tanah liat buatan sendiri.

Tayang:
Editor: Tsaniyah Faidah
TribunnewsBogor.com/Fifi Sulistiawati Dewi/Institut Ummul Quro Al Islami Bogor
KULINER BOGOR - Ngopi tanpa mesin, disangrai pakai gerabah tanah liat dan diseduh alat bambu, Patani Coffee Leuwiliang menghadirkan rasa kopi lokal yang otentik dan jarang ditemui. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Ditengah maraknya kedai kopi modern yang mengusung estetika Barat dan mesin espresso berteknologi tinggi, Patani Coffee di Leuwiliang, Kabupaten Bogor, tetap hadir sebagai ruang yang menjaga warisan rasa kopi di Indonesia.

Kedai ini mengandalkan alat-alat tradisional dari tanah liat dan bambu, sehingga pengunjung bisa menikmati kopi yang otentik, hangat, dan dekat dengan akar budaya lokal.

Patani Coffe merupakan gagasan Muhammad Arifin (51) yang telah menetap di Leuwiliang.

Didirikan pada 2017, kedai ini awalnya bernama Farmer Coffee.

Namun, karena masyarakat sekitar kesulitan melafalkan huruf “F”, Arifin mengganti nama kedainya menjadi Patani, yang dalam bahasa Sansekerta berarti “merawat”.

Nama ini dipilih untuk menggambarkan semangatnya dalam merawat tradisi pengolahan kopi lokal yang turun-temurun.

KULINER BOGOR - Patani Coffee Leuwiliang, kopi lokal dengan cita rasa yang selalu bikin rindu kehangatan sudut Bogor.
KULINER BOGOR - Patani Coffee Leuwiliang, kopi lokal dengan cita rasa yang selalu bikin rindu kehangatan sudut Bogor. (TribunnewsBogor.com/Fifi Sulistiawati Dewi/Institut Ummul Quro Al Islami Bogor)

Arifin menuturkan, konsep tradisional yang diusungnya lahir dari keprihatinan melihat trend kopi modern yang semakin mendominasi anak muda.

Ia berharap metode yang digunakannya bisa memperkenalkan kembali kekayaan rasa kopi lokal yang sesungguhnya.

“Saya ingin mempertahankan tradisi nenek moyang agar rasa kopi tetap terjaga keasliannya tanpa campuran apapun,”ujarnya.

Keunikan Patani Coffee terlihat jelas dari proses pengolahan biji kopinya.

Semua kopi berasal dari kebun petani lokal Leuwiliang, yang ditanam, dipanen, dan diolah langsung oleh Arifin.

Setelah buah kopi matang di pohon dan dipanen, biji kopi dijemur lalu ditumbuk untuk memisahkan kulitnya.

Proses sangrai menjadi bagian paling menarik karena Arifin menggunakan gerabah tanah liat buatan sendiri.

Menurutnya, penggunaan gerabah mampu memisahkan getah kopi secara alami sehingga menghasilkan rasa kopi yang lebih murni, lembut, dan tidak menimbulkan efek seret di tenggorokan.

Keunikan tersebut bahkan menarik perhatian dunia internasional.

Baca juga: Neduh Kopi, Ngopi Berasa di Halaman Rumah Sendiri, Bangkit dari Pandemi Kini Paling Digemari

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved