Inilah Pesantren Untuk Anak-anak Narapidana Teroris, ' Awalnya Mereka Penuh dengan Kebencian'
Ya, pelaku pengeboman di lokasi berbeda di Surabaya itu turut mengajak istri serta anak-anaknya untuk melakukan aksi tersebut.
Penulis: khairunnisa | Editor: khairunnisa
TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Kasus pengeboman di sejumlah wilayah di Surabaya baru-baru ini menggemparkan publik.
Betapa tidak, bom yang menewaskan puluhan orang tersebut nyatanya dilakukan oleh satu keluarga.
Ya, pelaku pengeboman di lokasi berbeda di Surabaya itu turut mengajak istri serta anak-anaknya untuk melakukan aksi tersebut.
Tentu anak-anak tersebut tak bisa diklaim sebagai pelaku.
Karena mereka hanyalah anak-anak yang dalam hal ini menjadi korban doktrin dari orangtua mereka.
Dalam insiden tersebut, terdapat empat orang anak pelaku teroris yang masih hidup.
Kondisi tersebut pastinya meninggalkan trauma mendalam untuk mereka.
Baca: Langsung Lari dan Gendong Anak Pengebom, Polisi : Kami Takut Tapi Naluri Kami Ingin Selamatkan Dia
Cacian hingga sentimen publik memungkinkan untuk dirasakan oleh mereka.
Dalam insiden ini, lagi-lagi anak lah yang menjadi korban.
Karena hal tersebut, mantan teroris jaringan Jamaah Islamiyah, Khairul Ghazali, memutuskan untuk membangun sebuah sekolah pesantren.
Target dari pesantren tersebut tak lain adalah untuk anak-anak para narapidana teroris atau yang orangtuanya adalah teroris.
Sebagai mantan teroris yang ikut andil dalam jaringannya, Khairul mengaku mendapat hidayah untuk taubat dan kembali ke jalan yang benar ketika di dalam penjara.
Baca: Ajak Anak-anak Untuk Lakukan Aksi Bom, Ternyata Begini Doktrin Dari Orangtuanya, Tak Boleh Sekolah?
Saat di dalam penjara, ia mengingat anak-anaknya yang mendapat stigma negatif dari masyarakat yakni sebagai anak teroris.
Selain itu, ia juga turut memperhatikan bagaimana kondisi anak rekan-rekannya.
Khairul bercerita bahkan anaknya harus keluar dari sekolah dan dikucilkan oleh teman-temannya.