Lubang Tambang Emas Gunung Pongkor Ditutup Semen
Tim gabungan kepolisian menutup sekitar 117 lubang tambang, tujuh diantaranya menggunakan semen.
TRIBUNNEWSBOGOR.COM, JAKARTA – Ratusan lubang galian para penambang emas tanpa izin di areal tambang milik PT Aneka Tambang (Antam) Gunung Pongkor, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, tak lagi bisa menghasilkan bijih logam mulia.
Tim gabungan kepolisian menutup sekitar 117 lubang tambang, tujuh diantaranya menggunakan semen. Upaya ini dimaksudkan mencegah para penambang tanpa izin menjalankan lagi praktik penambangan tanpa izin (PETI) yang diperkirakan merugikan negara hingga triliunan rupiah.
Sekitar 117 lubang galian yang ditutup, tersebar di wilayah Gunung Butak sebanyak 12 lubang, di Gunung Awi sebanyak 6 lubang, di daerah Keuyeup, Geslo dan Ciguha 19 lubang, lokasi Ciurug 43 lubang, lokasi Cepu 31 lubang dan di lokasi longsoran 6 lubang.
Sebanyak 2.376 petugas gabungan TNI-Polri, bersama Balai Taman Nasional Halimun Salak dan Satpol PP Kabupaten Bogor dikerahkan pada operasi penertiban penambang emas tanpa izin atau "gurandil" di areal tambang milik PT Antam Gunung Pongkor, Nanggung, Bogor, Sabtu (19/9/2015) lalu.
Kepala Polres Bogor AKBP Suyudi Ario Seto mengatakan, lokasi penutupan tersebut tersebar di blok Butak, blok Awi, Kampung Ciguha Keuyeup Geslo, blok Ciurug, blok Cepu, dan Longsoran.
"Tim gabungan juga sudah menutup lima akses jalan para penambang ilegal, mulai dari Pos Pasirpasang, Pos PT Antam, Pos Gudanghandak, Desa Bantarkaret, Pos Pongkor, Pos Cepak Puspa, dan Pos Kopo," ucap Suyudi, akhir pekan lalu.
Suyudi menambahkan, selain menutup lubang galian ilegal, tim gabungan gabungan juga membersihkan tempat tinggal sementara para gurandil di Kampung Ciguha, jaraknya sekitar 21 kilometer atau tepat di dalam kawasan eksploitasi emas.
“Kita kerahkan kekuatan besar untuk membersihkan kampung itu, karena di tempat tersebut selama 22 tahun para penambang ilegal tinggal dan melakukan aktivitas mencuri dan mengolah emas. Kita akan babat habis,” katanya.
General Manager PT Antam UBPE Pongkor I Gede Gunawan menuturkan, penutupanlubang penambang liar ini juga dilakukan sebagai upaya untuk menyelamatkan lingkungan dan ekosistem di kawasan Gunung Pongkor.
Air limbah dari pengolahan bahan emas dengan menggunakan logam berat merkuri mengakibatkan aliran sungai Cikaniki dan lahan sawah menjadi tercemar.
"Dari tempat pengolahan menggunakan gelundung itu mereka langsung membuang limbahnya ke sungai dan petakan sawah," tutur Gede.
Humas PT Antam Arief Armanto menjelaskan, dari total 686 lubang milik gurandil, ada 117 lubang yang masih aktif, tersebar di enam lokasi yaitu Gunung Butak, lokasi Awi atau Balon, lokasi Cepu, Ciurug, Ciguha, Keuyeup dan Geslo.
"Penertiban dilakukan selama dua hari, dengan target sebanyak 117 lubang yang masih aktif," kata Arief Armanto.
Maraknya penambang emas liar di kawasan Gunung Pongkor terjadi saat krisis moneter pada tahun 1998. Para penambang emas tanpa izin itu mulai melakukan pengolahan gelundungan secara massif dan besar-besaran.
"Awalnya aktivitas dilakukan secara sembunyi-sembunyi, namun saat ini secara terang-terangan bahkan hingga tembus ke produksi milik Antam. Ini yang menyebabkan terjadinya potensi kehilangan cadangan emas yang cukup besar," kata I Gede Gunawan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/tambang-emas-pongkor_20150921_101044.jpg)