Imlek 2016
Catatan Imlek Tiga Kota Tua di Indonesia yang Banyak Kemiripan
Perjalanan Kopi Semawis selama 13 tahun patut diacungi jempol
Penulis: Suut Amdani | Editor: Suut Amdani
Laporan Wartawan Tribunnewsbogor.com, Suut Amdani
TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR UTARA - Kemiripan sejarah tiga kota di Indonesia memungkinkan menjadi benang merah yang kembali terjalin.
Ketua Komunitas Pelestarian Pusaka Budaya Bogor (KPPBB), Ir. Dewi Djukardi, MH mengatakan ada kemiripan sejarah antara Semarang, Solo, dan Bogor.
“Komunitas Pelestari Semarang “Kopi Semawis” berhasil mewujudkan pariwisata berbasis budaya untuk kesejahteraan rakyat dengan partisipasi masyarakat yang luar biasa,” kata Dewi usai menghadiri udangan perayaan Imlek di Semarang.
“13 tahun perjuangan dari pintu ke pintu pendiri Kopi Semawis Widya Wijayanti bersama Dewi Tunjung dan kawan-kawan patut diacungi jempol,” kata Dewi kepada Tribunnewsbogor.com di Kota Bogor, Rabu (10/2/2016).
Dewi bercerita, pengabdian yang luar biasa berbuah manis, kemajuan Kopi Semawis pada gelaran Warung Semawis atau Pasar malam makanan Semarangan dan Pasar Imlek Semawis.
"Itu terwujud sebagai sebauah realitas keragamanan, saling menghargai suku, agama, adat istiadat dan budaya menjadi kekuatan ekonomi kerakyatan," ujarnya.

dok.KPPBB - Makan bersama di meja sepanjang 130 meter saat acara Pasar Imlek Semawis, Semarang, (4/2/2016).
“Solo bersolek dengan sangat cantik menyambut perayaan Imlek, kawasan pasar Gedhe sampai ke Balaikota dan pintu Gerbang masuk area Kraton menjadi kawasan yang sangat menarik masyarakat untuk berkumpul di malam hari,” kata Dewi.
Boneka setinggi 2 meter mewakili 12 shio dibuat berjejer rapih di sepanjang jalan depan balaikota sampai ke pintu gerbang Kraton.
“Sungguh keragaman yang luar biasa,” imbuhnya.
Keragaman dari Pemerintah yang diwakili balaikota, pasar yang mewakili masayrakat dan kraton .
Disudut dekat pasar Gedhe ada tempat ibadah Tri Dharma Tien Kok Sie.
“Intinya pluralisme itu indah, keanekaragaman itu indah. Dan Insya Allah Bogor juga memilikinya!” tuturnya.
Ia mengingatkan, kebudayaan diwariskan dengan jalan dipelajari dan dilestarikan serta berkembang dalam masyarakat pendukungnya.

Sudut Pasar Gedhe di Surakarta (Solo). dok.KPPBB
“Berdasarkan amanat UUD 1945 pemerintah mempunyai kewajiban melaksanakan kebijakan untuk memajukan kebudayaan secara utuh sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, sebagaimana warisan budaya di masa lalu cagar budaya menjadi penting perananya untuk dipertahankan keberadaannya,” ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/pasar-gedhe_20160211_011822.jpg)