ACBN: Xanana Tak Pernah Bilang Penyair Wiji Thukul Pemasok dan Perakit Bom

Tidak pernah. Xanana tidak pernah mengatakan seperti itu

Tayang:
Editor: Vovo Susatio
KOMPAS/PRIYOMBODO
Pejalan kaki melintas di depan baliho bergambar foto-foto orang hilang lengkap dengan nama dan tanggal hilangnya mereka, di Jalan Diponegoro, Jakarta, Sabtu (8/11/2008). 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, JAKARTA  - Associacao Dos Combatentes Da Brigada Negra (ACBN) angkat bicara terkait pernyataan di akun media sosial Path atas nama Ndorokakung.

Nuno Corvello dari ACBN menegaskan, Xanana Gusmao tidak pernah mengatakan bahwa penyair Wiji Thukul yang merakit bom, atau pintar merakit bom.

Selain itu, Xanana juga tidak pernah bilang Thukul mati terbunuh di perbatasan oleh anggota ABRI.

"Tidak pernah. Xanana tidak pernah mengatakan seperti itu," ujar Nuno, ketika dihubungi Kompas.com, Sabtu (19/3/2016).

Baca : Timor Leste Membantah Kabar Wiji Thukul Diberi Penghargaan Atas Jasa Membantu Membuat Bom

Nuno menjelaskan, ACBN adalah sebuah lembaga Organisasi Masyarakat Sipil yang didirikan pada tahun 2013 dan diakui secara hukum di Timor-Leste.

Organisasi ini adalah asosiasi bagi para pejuang Brigada Negra yang didirikan pada tahun 1995 oleh Kay Rala Xanana Gusmao, sebagai Komandan Tertinggi Falintil (Tentara Pembebasan Timor-Leste).

SMH
Xanana Gusmao, dan istrinya Kirsty Sword Gusmao dalam sebuah kunjungan resmi ke Australia tahun 2008 ketika Xanana menjabat sebagai presiden Timor Timur.
Pada tanggal 16 Maret 2016 bertempat di Gedung Delta Nova, Dili, ACBN mengadakan seminar Tentang Batas Laut yang dilanjutkan dengan pemberian penghargaan kepada 500 pejuang dari berbagai organsiasi di Timor-Leste karena dianggap berjasa dalam perjuangan kemerdekaan.
Selain itu ada penganugerahan penghargaan kepada aktivis solidaritas internasional untuk Timor-Leste dari Indonesia, Australia, Jepang dan Portugal.

Mantan Perdana Menteri dan Presiden Timur Leste, Xanana Gusmao, memberi penghargaan kepada aktivis Indonesia era Orde Baru, Wiji Thukul.

Anak sulung Thukul, Fitri Nganthi Wani menerima sertifikat penghargaan mewakili ayahnya.

Tribunnews.com/DANY PERMANA
Putri aktivis yang hilang Wiji Thukul, Fitri Nganthi Wani, membacakan puisi dalam sebuah acara di Jakarta, Rabu (7/5/2014).

Bersama dia, ada para aktivis demokrasi Indonesia di zaman Orde Baru seperti, Budiman Sudjatmiko, Dita Indah Sari, Danial Indrakusuma, Wilson, Bima Petrus Anugrah, Jacobus Eko Kurniawan, Petrus Hari Hariyanto, Andi Arief (tidak hadir) dan Fransisca Ria Susanti.

"Kami memberikan penghargaan kepada Thukul karena dianggap berkontribusi dalam proses perjuangan Timor Leste meraih kemerdekaan," ungkap Nuno.

Menurut penuturan dia, Wiji Thukul pernah membuat puisi yang didedikasikan kepada perjuangan rakyat Timor Leste.

Thukul pun ikut terlibat aktif dalam demonstrasi menuntut proses demokratisasi di Timor Leste.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved