'Kartini Kendeng' Melawan Pabrik Semen Dengan Mengecor Kaki dan Bersenandung Pilu di Depan Istana
Senandung itu terasa begitu pilu saat dinyanyikan bersama. Bagi para petani tangguh ini, lagu itu adalah penyemangat.
TRIBUNNEWSBOGOR.COM, JAKARTA - Terik matahari Jakarta menemani "Sembilan Kartini" dari Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah duduk diam di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (12/4/2016).
Datang jauh dari Jawa Tengah, para petani ini menuntut pembatalan pembangunan pabrik semen di sekitar lahan tani mereka.
Mereka pun berniat menemui Presiden Joko Widodo untuk mengadukan hal itu.
Tak lama kemudian, semen, krikil, dan pasir tiba.
Ramuan bahan bangunan itu lalu dibalurkan ke kaki sembilan petani perempuan yang datang dari berbagai daerah seperti Rembang, Pati, dan Grobogan itu.
Joko, petani asal Rembang, yang mendampingi para Kartini, sibuk membuat adukan semen.

Kristian Erdianto/Kompas.com
Sembilan petani perempuan yang kerap disebut Kartini Pegunungan Kendeng melakukan aksi protes dengan mengecor kaki mereka di seberang Istana Negara pada Rabu (13/4/2016). Hal ini merupakan bentuk protes petani terhadap pendirian pabrik semen PT. Semen Indonesia. Sembilan Kartini Pegunungan Kendeng tersebut merupakan para petani sepanjang pegunungan Kendeng yaitu Rembang, Pati, Blora, dan Grobogan, Jawa Tengah.
Setelah selesai diaduk di dalam kotak kayu, satu per satu kaki para "Kartini" yang sudah dibalut gips warna putih dibenamkan.
Sembari membenamkan kaki mereka, para kartini bersenandung merdu.
Salah satu "Kartini" berdiri dan memberi aba-aba dengan tangan terkepal.
"Kendeeng... Lestari Jawa Tengah.... Jaya Indonesia... Merdeka...".
Lantunan tembang Jawa berjudul Ibu Pertiwi ciptaan Ki Nartosabdo, dalang wayang kulit legendaris terdengar.
"Ibu Pertiwi, Paring boga lan sandhang kang murakabi, Peparing rejeki manungsa kang bekti, Ibu Pertiwi, Ibu Pertiwi, Sih sutresna mring sesami, Ibu Pertiwi, kang adil luhuring budi, Ayo sungkem mring Ibu Pertiwi"
Senandung itu terasa begitu pilu saat dinyanyikan bersama.
Pada intinya, lagu itu adalah sebuah rasa syukur terhadap kasih dan limpahan rejeki yang telah diberikan "Ibu Pertiwi" kepada manusia.
Maka, seyogyanya, manusia perlu memberi hormat kepada kekayaan alam yang ada di bumi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/kartini-kendeng_20160414_105633.jpg)