Ternyata Dahulu Ada Polisi yang Lebih Muda dari Tito Ketika Jadi Kapolri
Agustinus Pohan, masih ingat pada sosok muda yang sudah menjadi Kapolri di Indonesia.
Penulis: Suut Amdani | Editor: Suut Amdani
TRIBUNNEWSBOGOR.COM, JAKARTA - Menjadi Kepala Polri bukan seperti giliran dalam arisan.
Karenanya tak ada kewajiban giliran angkatan menjadi patokan memilih calon Kapolri.
Pakar hukum dari Universitas Parahyangan Agustinus Pohan, masih ingat pada sosok muda yang sudah menjadi Kapolri di Indonesia, pun angkatan muda.
Jadi menurutnya, tak ada masalah yang junior menjadi pemimpin di Polri.
Jika memiliki kapasitas dan segudang pengalaman serta prestasi.
Ia pun meminta semua pihak tidak langsung mengambil pemikiran bahwa Kepala BNPT itu akan menjabat Kapolri hingga dirinya pensiun pada 2022 mendatang.

Seperti diketahui Presiden Joko Widodo mengajukan Komjen Tito Karnavian sebagai calon tunggal Kapolri.
Karena imbuhnya, tak ada yang pernah tahu apa yang terjadi kedepan keputusan yang akan diambil Presiden Jokowi.
Atau pun penggantinya jika tak kembali memenangkan Pilpres 2019.
"Bagaimana kita menjamin bahwa pak Tito akan menjabat sampai 2022. Bisa diganti di tengah jalan atau karir beliau melejit melampaui jabatan kapolri, apakah Menko atau bahkan lebih tinggi lagi," ujarnya.
Yang jelas, menurutnya, Tito adalah putra terbaik bangsa ini, karena itu semua elemen bangsa ini harus mendukungnya untuk mengabdi sebesar-besarnya untuk bangsa dan negara.
"Jabatan adalah pengabdian. Jadi terpilihnya pak Tito bukan untuk beliau tetapi harus dibaca sebagai tugas untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara," katanya.
Dia pun mengingatkan bahwa tugas rumah Tito sebagai Kapolri masih banyak jika terpilih nantinya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/tito_20160618_011726.jpg)