Kawal Mobil Mewah, Polisi Ini 'Ngamuk' Saat Seorang Pengendara Memfotonya

Kemudian saat polisi tsb mengetahui sy melakukan pemotretan, dia memotret balik kendaraan saya dengan HP-nya kemudian

Penulis: Tania Natalin Simanjuntak | Editor: Yudhi Maulana Aditama
Facebook

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Tania Natalin Simanjuntak

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Keluarga ini baru saja mengalami hal buruk di Jalan Raya Puncak tanggal 4 Februari lalu.

Dilihat dari Facebook Ihsan Amaluddin, bapak tiga anak ini sedang dalam kendaraan ketika terjadi sesuatu.

Menurutnya, peristiwa ini terjadi karena ulah voorijder yang mengawal sebuah mobil berwarna hitam.

Hal ini bahkan sampai membuat kedua belah pihak bersitegang di jalan.

Akibat hal ini, Ihsan mengaku terluka di bagian mulut.

Berikut isi cerita dari Ihsan.

"Diancam polisi di jalan raya cipanas, puncak, sabtu 4 Februari 2017.
Siang sekitar pukul 14.30 sy bersama keluarga (4 mobil) bergerak dari arah jakarta ke puncak.

Sy mengendarai mobil innova putih bersama istri dan anak2 saya (11thn, 8thn, 3thn) seorang ponakan (6thn) dan seorang ART.

Dalam kemacetan menuju arah puncak ada sebuah mobil alphard hitam berplat B, menyusul saya dikawal oleh seorang forerider polantas bernomor kendaraam BM 11. Setelah berlalu beberapa saat, sy melihat mobil2 bergerak kearah bahu jalan di kiri seakan ada mobil yg mogok di jalur saya.

Sy pun mengikuti kendaraan lain melipir kebahu jalan dan melihat ternyata forerider yg tadi menyusul saya, tengah berhenti di tengah jalan, sehingga menghalangi kendaraan lain dibelakangnya..

Setelah sy melewati polisi tersebut, sy memotret kondisi lalu lintas yang menjadi semakin macet karena ulah forerider itu dengan menggunakan kamera handphone sy.

Kemudian saat polisi tsb mengetahui sy melakukan pemotretan, dia memotret balik kendaraan saya dengan HP-nya kemudian menghampiri kendaraan saya dan mengetuk kaca mobil.

Sy pun menurunkan kaca mobil dan terjadi pembicaraan sbb:
(P=polisi, S=saya, I=istri)
P: "mengapa anda tadi memotret saya? Tidak boleh memotret tanpa ijin."
S: "Sy memotret kondisi jalan raya, sy tidak khusus memotret anda".
P: "Sy mau lihat SIM dan STNK!" (Nada nya mulai tinggi).
S: "Untuk apa ya pak? Apa kesalahan saya sehingga bapak mau lihat SIM & STNK?"
P: "Anda harusnya tidak memotret saya tanpa ijin!"
S: "Baik, kalau begitu saya minta disebutkan sy melanggar perundangan apa, pasal berapa?"
P: "Daripada saya kempeskan ban mobil anda!" (Nada-nya semakin tinggi)
S: "Wah, kok jadi mengancam begitu? Sy hanya meminta disebutkan kesalahan saya melanggar pasal berapa?"
"Bunda!" (sy bicara pada istri sy disebelah sy) "rekam ini polisi yang mengancam2!".
Kemudian polisi itu berteriak sangat keras, dengan ekspresi pemain sinetron terkenal didepan wajah saya..
P: "Mana SIM dan STNK!!!"
S: "Jelaskan dulu, apa kesalahan saya?"
Kemudian polisi itu menunjuk2 wajah saya dengan keras, sehingga melukai mulut saya dengan kuku-nya sambil berkata kurang lebih sebagai berikut:
P: "Sudah pintar kamu ya, pintar!"
Istri saya kemudian berkata kepada polisi tsb:
I: "Pak, jangan kasar begitu, disini banyak anak2".

Saya kemudian bermaksud keluar dari mobil, namun setelah pintu terbuka didorongnya pintu mobil saya oleh polisi tsb sehingga tertutup kembali dengan keras.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved