Pemuda Asal Cibinong Ini Komunikasi Lewat Gerakan Tangan, Punya Hobi Breakdance
Dengan berkomunikasi melalui tulisan, Imam pun menceritakan kalau ia dan Nofiar adalah penyandang difabel, lebih tepatnya tunarungu.
Penulis: Naufal Fauzy | Editor: Yudhi Maulana Aditama
Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy
TRIBUNNEWSBOGOR.COM, MEGAMENDUNG - Sore itu Kawasan Puncak, Kabupaten Bogor sedang turun hujan.
Beberapa pengendara motor yang melintas di Jalan Raya Puncak menepi di minimarket atau warung pinggir jalan.
Seperti yang dilakukan Imam (22) dan Nofiar (23), dua pemuda asal Cibinong, Kabupaten Bogor ini.
Mereka terpaksa menepi karena tak membawa jas hujan.
Mereka pun tampak asik bercengkrama di depan minimarket.
Namun, ada yang pemandangan berbeda saat mereka berinteraksi.
Ternyata mereka berinteraksi menggunakan bahasa isyarat.
TribunnewsBogor.com pun mencoba untuk mengetahui lebih dalam lagi siapa mereka.
"Kita mau ke Puncak, ke rumah temen," ungkap Imam kepada TribunnewsBogor.com lewat tulisannya.
Dengan berkomunikasi melalui tulisan, Imam pun menceritakan kalau ia dan Nofiar adalah penyandang difabel, lebih tepatnya tunarungu.
Ayah Imam adalah seorang pegawai konstruksi baja dengan ibunya sebagai tukang warung.
Sementara ayah Nofiar sudah wafat tahun 2014 sedangkan ibunya adalah seorang dokter di sebuah rumah sakit.
Hidup sebagai tunarungu, mereka mengaku memang berbeda dengan warga lain kebanyakan.
Namun karena banyak yang mau berteman, membuat mereka tidak pernah mengeluh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/penyandang-tunarugu_20170722_195553.jpg)