Breaking News:

Hati-hati Bersentuhan Dengan Kelelawar, Air Liurnya Mengandung Banyak Virus

Kajian morfofisiologis sangat penting dalam memberi pengetahuan yang lebih lengkap dan komprehensif tentang hewan.

Pixabay
Kelelawar 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Morfofisiologi disebut juga anatomi fungsional yakni ilmu dasar kedokteran hewan yang mempelajari tentang bentuk dan fungsi sistem organ tubuh serta keterkaitannya dengan proses-proses regulasi, perilaku dan lingkungannya.

Kajian morfofisiologis sangat penting dalam memberi pengetahuan yang lebih lengkap dan komprehensif tentang hewan.

Seperti sifatnya, perilaku, cara berkembang biak, fisiologi dan regulasi sistem organ, sampai ke mekanisme kejadian penyakit dan proses tanggap kebalnya.

Contoh aplikasi ilmu morfofisiologi dalam mendukung riset terkait penyakit menular adalah kajian pada potensi kelelawar sebagai sumber penyakit.

Kelelawar merupakan reservoir (pembawa) berbagai jenis virus.

Dilaporkan tidak kurang dari 200 jenis virus telah diisolasi dari kelelawar, diantaranya bersifat patogen dan menimbulkan penyakit di manusia dan hewan lainnya, misalnya Rabies, Ebola, Nipah, Hendra, Marburg, dan Japanese encephalitis (radang otak).

Uniknya, walaupun mengandung banyak virus di dalam tubuhnya, kelelawar tidak menunjukkan gejala sakit.

Demikian disampaikan Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr drh Srihadi Agung Priyono belum laman ini.

Prof Srihadi yang juga Dekan FKH IPB ini mengatakan, keunikan ini diduga terkait erat dengan keunikan morfofisiologi sistem kekebalan dan pertahanan alami tubuh kelelawar.

Virus patogen bisa berpindah kepada sesama kelelawar, hewan lain atau manusia lewat cairan tubuh, seperi air liur, menempel pada sisa buah yang dimakan, lewat ekskreta tubuh (urin dan feses) dan lewat kontak langsung.

Halaman
12
Penulis: Soewidia Henaldi
Editor: Soewidia Henaldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved