Kisah Haru Dibalik Lagu Sampai Jadi Debu Milik Banda Neira, Diperdengarkan Saat Sakaratul Maut

Lagu ini juga terinspirasi dari kisah kakek dan neneknya dalam menjalani 10 tahun terakhir sebelum mereka meninggal.

Tayang:
Penulis: Yudhi Maulana Aditama | Editor: Yudhi Maulana Aditama

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Lirik syahdu dari lagu-lagu mereka mungkin akan selalu dirindukan bagi para penggemar duo Banda Neira.

Pada 23 Desember 2016 silam, Ananda Badudu dan Rara Sekar memutuskan untuk bubar.

Kabar itu mereka umumkan langsung lewat akun Instagram resmi mereka @bandaneira_official.

Pengumuman tersebut sontak mengejutkan khalayak serta terlebih untuk para penggemar Banda Neira.

Lagu-lagu mereka yang sarat makna, dan beberapa diantaranya mengharu biru ini seolah menjadi andalan orang-orang yang ingin mencari ketenangan.

Sebut saja, lagu 'Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti' ini digemari banyak orang dan akhirnya dipilih untuk mengisi soundtrack film Filosofi Kopi.

Baca: Pernikahan Remaja Bawah Umur Ini Bikin Heboh, Alasannya Karena Sering Lakukan Ini Hingga Subuh

Dan, lagu terakhir mereka sebelum bubar berjudul Sampai Jadi Debu ini terdengar sangat sentimentil dengan liriknya yang romantis serta aransemen yang sederhana.

Dalam penggarapannya mereka menggaet Komponis asal Yogyakarta, Gardika Gigih.

Ada fakta menarik dibalik lagu Sampai Jadi Debu ini.

Rupanya lagu Sampai Jadi Debu belum pernah dibawakan secara live, sejak lagu ini direkam pada tahun 2016 silam.

Hal itu diungkapkan langsung oleh Ananda Badudu dalam konser Gardika Gigih di IFI Jakarta tanggal 2 Desember 2017.

Dalam konser itu, Rara Sekar digantikan oleh Monita Tahalea untuk menyanyikan lagu Sampai Jadi Debu.

Baca: Ditegur Mertua Tak Bisa Selesaikan Masalah dengan Istri, Taqy Akui Rumah Tangganya Tak Harmonis

Momen itu merupakan pertama kalinya lagu Sampai Jadi Debu dibawakan dalam konser.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved