Sempat Ingin Akhiri Hidupnya, Begini Kisah Stephen Hawking, 50 Tahun Hidup Dengan Penyakit ALS
Kabar duka datang dari fisikawan ternama, Stephen Hawking. Profesor kenamaan itu tutup usia pada usianya yang ke 76 tahun, Rabu (14/3/2018).
Penulis: khairunnisa | Editor: khairunnisa
TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Kabar duka datang dari fisikawan ternama, Stephen Hawking.
Profesor kenamaan itu tutup usia pada usianya yang ke 76 tahun, Rabu (14/3/2018).
Diberitakan sebelumnya yakni pada tahun 2015, Stephen Hawking ternyata pernah beberapa kali berniat untuk mengakhiri hidupnya.
Dilansir dari tribunnews.com, Fisikawan Stephen Hawking mengatakan kepada BBC bahwa ia lebih baik mengakhiri hidupnya saja jika ia tidak bisa berkontribusi lebih dan menjadi beban saja bagi sekitarnya.
Namun, ahli fisika dan kosmologi tersebut mengaku ia tahu bahwa dirinya masih memiliki proyek-proyek sains yang harus dikerjakan, tak peduli akan kelainan saraf motoriknya yang semakin parah.
"Untuk mempertahankan seseorang agar tetap hidup, meski tidak sesuai dengan kehendaknya, adalah sebuah penghinaan besar. Mungkin saya akan meminta bantuan orang lain untuk mengakhiri hidup saya," kata pria berusia 73 tahun itu.
Menurut The Guardian, ini bukan pertama kalinya Hawking menyuarakan keinginan untuk mengakhiri hidupnya dengan bantuan orang lain.
Baca: Bu Dendy Pamer Foto Bareng Istri Pertama Pak Dendy, Ternyata Begini Sosoknya
Sebelumnya, pada 2014 lalu, ia pernah mengatakan kepada BBC bahwa ia sempat mencoba bunuh diri setelah dioperasi.
"Tiba-tiba saya ingin mencoba untuk mengakhiri hidup saya dengan menahan napas. Tapi, refleks untuk bernapas saat itu begitu kuat," ungkap Hawking, menceritakan usaha bunuh dirinya setelah operasi trakeostomi sekitar 1980-an lalu.
Ia pun menambahkan bahwa sebaiknya mereka yang membantu orang yang dikasihinya untuk mengakhiri hidupnya diberi imunitas dari penuntutan dan tuduhan pembunuhan.
Sebaliknya, mereka yang ingin mengakhiri hidupnya harus difasilitasi penjaga keamanan untuk memastikan bahwa ia benar-benar ingin mati.
Sementara, Hawking mengaku bahwa selama ini dirinya menyesali ketidakmampuannnya untuk berkomunikasi secara mudah dengan rekan dan penggemarnya.
Baca: Ayu Dewi Lakukan Aksi Penghilang Stres dalam Mobil, Sosok di Sampingnya Ini Malah Bikin Salah Fokus
Mereka seringkali gugup ketika ingin mendekatinya dan bercakap-cakap dengannya.
"Beberapa kali saya merasa kesepian karena orang-orang terlalu takut untuk berbicara pada saya atau tidak menunggu saya untuk menulis respon. Saya malu dan lelah. Saya kesulitan ketika berbicara dengan orang-orang yang tidak saya kenal."
Di samping keputusasaannya itu, ia masih yakin bahwa masih banyak penemuan dan teori-teori yang harus ia hasilkan. "Sayang rasanya jika saya meninggal sebelum saya bisa membongkar lebih dalam lagi semesta ini," tuturnya.
Kabar kematiannya tentu tak hanya mengejutkan penggemarnya, tapi juga seluruh dunia yang mengenalnya.
Dilansir dari financialexpress.com, penyebab kematiannya pun diyakini karena komplikasi akibat sklerosis lateral amyotrophic, penyakit neurodegeneratif progresif.
Mengenai kabar kematiannya itu pun telah dikonfirmasi langsung oleh pihak keluarganya.
"Kami sangat sedih karena ayah tercinta kami meninggal hari ini," ucap anak-anak Stephen Hawking, Lucy, Robert dan Tim mengatakan dalam sebuah pernyataan.
"Dia adalah ilmuwan hebat dan pria luar biasa yang pekerjaan dan warisannya akan dijalaninya selama bertahun-tahun. Keberanian dan ketekunannya dengan kecemerlangan dan humornya mengilhami orang-orang di seluruh dunia," ujar anak-anak Stephen Hawking.
Baca: Pernah Janji Tak Lakukan Kejahatan IT, Hacker Surabaya Ini Malah Retas Situs, Cuma Butuh 5 Menit