Waspada! Serangan Jantung Berbahaya Bernama 'Angin Duduk', Begini Penjelasannya

Tak jelas di mana duduknya, istilah "angin duduk" sudah menjadi milik publik. Namun bukan sembarang duduk ....

Tayang:
Editor: khairunnisa
healthtap
Ilustrasi 

Beruntung jika perjalanan penyakit jantung koronernya diperingatkan oleh angina pectoris dulu.

Kita bisa bersikap lebih waspada, dan melakukan langkah pencegahan agar kejadian serangan jantung koroner sekaliber angin duduk bisa digagalkan.

Caranya, ya dengan menghapus semua faktor risiko pemicu jantung koroner.

Lemak darah dinormalkan, kencing manis dikontrol, darah tinggi diturunkan, berat badan dibikin ideal, banyak bergerak badan, tidak merokok, diet rendah lemak, batasi garam dapur, dan jauhkan dari cemaran stres.

Terakhir namun jangan dilupakan: hiduplah dengan lebih rileks.

Namun, tidak semua yang koronernya tersumbat merasakan nyeri dada. Misalnya pada pengidap kencing manis dengan jantung koroner. Ini tergolong silent ischemic.

Baca: Hati-hati, Wilayah Bogor Diprediksi Turun Hujan Sore Hari Ini

Bisa dibayangkan, dengan peringatan saja sudah berbahaya, apalagi tanpa merasakan nyeri dada. Tiba-tiba saja sumbatannya sudah total, dan berakibat fatal.

Serangan "angin duduk" sering dikeluhkan seperti "masuk angin". Orang minta dikeroki, dibalur minyak angin, dipijat, atau minta minum yang hangat.

Padahal waktu untuk menolongnya amatlah singkat. Untuk kasus "angin duduk" waktu yang tersedia untuk menyelamatkan jantung tak lebih dari 15 menit.

Maka seharusnya korban langsung diusung ke rumah sakit. Sekurang-kurangnya beri tablet aspirin sekadar menjadikan darah lebih encer sebelum tiba di rumah sakit.

Sumbatan koroner bukan hanya oleh "karat lemak" pada dindingnya.

Aliran darah koroner diperburuk oleh darah yang mengental, atau gumpalan lemak dan bekuan darah kiriman dari luar jantung.

Maka selain menormalkan lemak darah, perlu juga mengencerkan darah.

Yang pernah mengalami angina, atau berisiko koronernya tersumbat, darahnya tidak boleh kental.

Untuk itu jangan sampai kurang minum, dan rutin minum tablet aspirin.

Sumber: Intisari
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved