Gempa di Donggala

Cerita Fahmi Selamatkan Istri yang Hamil Tua, Berhasil Menyelundup ke Pesawat Hercules Berkat Dokter

Bencana gempa menjadi titik balik bagi Syahrul Fahmi, seorang warga yang berhasil selamat dalam gempa yang terjadi pada Jumat (28/9/2018) petang.

Penulis: yudhi Maulana | Editor: Ardhi Sanjaya
Facebook
Syahrul Fahmi beserta istri dan keluarga yang selamat dari bencana gempa di Palu 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Bencana gempa menjadi titik balik bagi Syahrul Fahmi, seorang warga yang berhasil selamat dalam gempa yang terjadi pada Jumat (28/9/2018) petang.

Fahmi beserta keluarga dan orangtuanya selamat dalam peristiwa yang mengakibatkan seribu lebih orang meninggal.

Melalui akun Facebook-nya, Fahmi menceritakan mulai dari detik-detik peristiwa gempa terjadi hingga ia dan keluarga berhasil keluar dari Palu.

Diketahui, Fahmi memiliki seorang anak yang masih balita dan istri yang tengah hamil tua.

Saat gempa terjadi, dirinya sedang berada di rumah dan sedang melayani pelanggan di tempat usahanya.

Dirinya juga nekat menyelamatkan keluarganya dengan masuk ke dalam rumah saat gempa terjadi.

Setelah lebih dari dua hari ia dan keluarga harus bertahan hidup, mereka memutuskan untuk meningalkan Palu dengan menaiki kapal Hercules yang berangkat dari Bandara Sis Al Jufri Palu menuju Makassar.

"Laa ilaaha illallah, astagafirullahulazim, menjadi kalimat tauhid yang tak pernah putus saya ucapkan sejak hari Jumat, 28 Agustus. Padahal kalimat itu sangat jarang saya ucapkan.

Ini mungkin menjadi titik balik buat saya dalam mengingat sang pencipta. Sebab, saya yang selama ini masih terbuai oleh dunia dikagetkan dengan bencana yang hampir merenggut nyawa saya beserta anak istri dan mama.

Bagaimana tidak, pasca kejadian bencana alam Gempa Bumi dengan kekuatan mencapai 7,7 SR sehingga menghasilkan tsunami di Kota Palu menjadi kisah paling menakutkan dan mencekam dalam hidupku. Mungkin Rasa itu tidak bisa saya buang jauh. Masih teringat jelas peristiwa yang telah merenggut nyawa Ribuan orang tersebut.

Kejadiannya pun tepat suara Adzan tengah berkumandang di Masjid-majid. Saat kejadian saya pun, tengah melakukan aktifitas membakar ikan untuk menjamu pelanggan saya. Sebab saya baru merintis usaha kuliner di kota palu. Istri yang tengah hamil tua, anak, dan mama pun saat itu masih di kamar. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari bawah tanah.

Ratusan pengendara motor yang lalu lalang di jalan raya tiba-tiba ambruk sendiri dan listrik langsung padam. Seketika itu pun tanah bergetar. Yang pertama terasa pijakan kakiku seperti turun kemudian tanah naik dan disusul goyangan yang durasinya pun sangat panjang, lebih dari lima menit.

45 Penjarah di Palu yang Resahkan Korban Gempa Ditangkap Polisi, Sebagian Merupakan Tahanan Kabur

Seketika itu saya teringat keluarga saya yang ada di kamar. Mungkin istilah penerbangan selamatkan diri sendiri lebih utama baru selamatkan nyawa orang lain tak berlaku lagi buat saya. Sebab dalam fikiranku, lebih baik saya mati bersama keluargaku daripada meninggalkan mereka dalam ruko yang masih bergetar akibat guncangan kuat tersebut.

Teriakan orang yang melarang saya untuk tidak masuk dalam rumah. "Pak jangan masuk, bahaya pak. Oi pak di luar saja." itu teriakab orang kepaku yang saya sendiri tidak tahu darimana asalnya."

Sesampai depan pintu kamar, saya berusaha meraih mama, anak dan istriku. Saya tak ingat bagaimana saya bisa meraih mereka dan mengefakuasi mereka keluar rumah. Mungkin fikiran jernih sudah tak ada dalam kepalaku, yang hanya ada dalam fikiranku untuk menolong mereka semua.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved