Gempa di Donggala
Sempat Mengungsi di Bandara, Pramugari Garuda Indonesia Ini Tinggalkan Palu Naik Helikopter
Captain Tria ini bercerita kalau jalur pesawat pecah sekira 250 m dan hanya bisa digunakan sekira 500 m.
Penulis: Sachril Agustin Berutu | Editor: Yudhi Maulana Aditama
TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Tria Aditia Utari, Pramugari Garuda Indonesia menceritakan usai dirinya dan rekan-rekannya berhasil selamat dari gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah.
Saat gempa dan tsunami tak terjadi lagi, ia dijempu oleh tim dari msakapai Garuda Indonesia untuk mengungsi ke tempat yang aman.
Lalu, keesokan harinya, ia dan rekannya menuju ke bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu dan berencana untuk berangkat ke Makassar.
"Kami sempat berunding untuk ke Makassar. Tapi, dari Palu ke Makassar cukup lama, sekira 9 jam. Apalagi dengan banyaknya jalan yang ditutup, pasti lebih lama lagi. Sempat dikatakan ke Mamuju, ternyata jalanan ke Mamuju itu ditutup karena longsor. Ke Gorontalo, ditutup juga. Akhirnya kita memutuskan untuk menunggu sampai pagi. Sekira pukul 02.30 WITA, saya baru bisa tidur dan sehabis subuh, saya bangun," terangnya.
Lantas, Tria mencoba berjalan dengan melihat kondisi sekitar. Dan sekira pukul 06.00 WITA, pihak hotel Mercure membawa suplai makanan, yaitu air, roti, dan biskuit untuk sarapan pagi.
• 45 Penjarah di Palu yang Resahkan Korban Gempa Ditangkap Polisi, Sebagian Merupakan Tahanan Kabur
Tak lama, Captain dan Co-pilotnya, Ageng (First Officer) kembali setelah melakukan inpeksi run way ke bandara.
Captain Tria ini bercerita kalau jalur pesawat pecah sekira 250 m dan hanya bisa digunakan sekira 500 m.
Namun, pendeknya jalur hanya bisa dipakai take off pesawat baling-baling.
Tak sampai situ, menara kontrol di bandara juga rubuh sehingga menyulitkan bila ada pesawat yang ingin datang atau pergi.
"Jadi harus manual karena menara rubuh. Info lainnya adalah berkasku belum ditemukan karena pihak hotel prioritaskan korban terluka dan jenazah. Selain itu, ada pula informasi bahwa akan ada gempa dengan magnitudo 5,5 dan berpotensi tsunami pukul 11.30 WITA," jelasnya panjang lebar.
Sang Captain, kata Tria, memutuskan untuk ke bandara karena merupakan dataran paling tinggi dan lebih aman.
Bersama Stasiun Manager Garuda di Palu, mereka bertujuh berangkat ke bandara dengan mobil.
Sesampainya di sana, terlihat banyak orang juga yang bermalam di bandara.
• Cerita Pramugari Selamatkan Diri dari Terjangan Tsunami di Palu, Air Sempat Surut Tapi Kembali Naik
"Lalu kami bertemu ibu Amira dan ia katakan untuk ke posko warga bandara saja karena disana ada air yang bisa digunakan untuk mandi, pakaian ganti, terus makan sembari tunggu kabar. Kami akhirnya ke sana dengan berjalan kaki sekira 15 menit," jelasnya.
Di posko warga, sekira pukul 13.30 WITA, Tria dan teman-temannya dikabari Kepala Stasiun Manager Garuda di Palu, bahwa ada helikopter Hercules sekira pukul 15.00 WITA yang akan take off ke Makassar.