BREAKING NEWS - Gempa Bumi Terasa di Tasikmalaya, Warga Berhamburan ke Luar Rumah
Sejumlah warga Kecamatan Sukarame, Kabupaten Taksimalaya sempat berhamburan keluar rumah.
Penulis: widi henaldi | Editor: Yudhi Maulana Aditama
Volume GAK yang hilang diperkirakan sekitar antara 150-180 juta m3, sementara volume yang tersisa saat ini diperkirakan antara 40-70 juta m3.
Berkurangnya volume puncak GAK ini diperkirakan karena adanya proses rayapan tubuh gunung api yang disertai oleh laju erupsi yang tinggi dari 24-27 Desember 2018.
Dengan jumlah volume yang tersisa tidak terlalu besar, maka potensi terjadinya tsunami relatif kecil, kecuali ada reaktivasi struktur patahan sesar yang ada di Selat Sunda.
Menurut dia, pola letusan GAK saat ini telah berubah dari strombolian, yaitu letusan yang disertai dengan lava pijar menjadi letusan surtseyan yang terjadi di permukaan laut.
"Letusan surtseyan ini sangat kecil memicu tsunami," jelasnya.
Walaupun demikian, potensi bahaya dari lontaran material lava pijar masih ada.
Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data visual maupun instrumental hingga Jumat (28/12), tingkat aktivitas GAK masih tetap Level III atau Siaga.
Dari analisa awal, status tersebut tidak akan ditingkatkan ke level IV atau Awas.
"Jadi kalau misalkan di Merapi itu kita tetapkan level IV, itu sudah bergerak semua bus, semua truk, sudah bergerak (untuk evakuasi). Tapi, kalau di sana (GAK) nggak ada jalannya (pemukiman), ya mestinya nggak ada pengungsian," ujar Antonius.
Sementara itu, petugas Pos Pantau GAK mencatat aktivitas gunung api yang berada di Selat Sunda itu juga relatif tenang.
Berdasarkan data vulcano aktivity report (Magma-VAR) sampai pukul 06.00 WIB, Sabtu, terpantau asap berwarna kelabu dengan intensitas tipis. Selain itu, tidak lagi terdengar suara dentuman.
"Berdasarkan data tercatat ada aktivitas kegempaan letusan sebanyak 43 kali dengan amplitudo10-25 mm dan durasi 80-160 detik," ujar Andi Suardi, Kepala Pos Pantau GAK di Desa Hargo Pancuran, Sabtu.
Sementara itu, Deputi Bidang Geofisika BMKG, Muhamad Sadly, dalam keterangannya menyebut masih aktifnya GAK mengakibatkan masih ada potensi membangkitkan tsunami.
"Berdasarkan hasil pemotretan udara oleh TNI AU dan BMKG, diketahui Gunung Anak Krakatau masih aktif, masih berpotensi membangkitkan tsunami," kata Sadly.
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan waspada serta menghindari aktivitas di pantai/pesisir Selat Sunda dalam radius 1 km dari tepi pantai dan tak mendekat dalam radius 5 km dari kawah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/ilustrasi-gempa-bumi1.jpg)