BREAKING NEWS - Gempa Bumi Terasa di Tasikmalaya, Warga Berhamburan ke Luar Rumah
Sejumlah warga Kecamatan Sukarame, Kabupaten Taksimalaya sempat berhamburan keluar rumah.
Penulis: widi henaldi | Editor: Yudhi Maulana Aditama
Masyarakat yang tinggal di Pulau Sebesi, yang berjarak 17 km dari GAK, sudah dievakuasi.
"BMKG beserta Badan Geologi dengan dukungan TNI dan Kementerian Koordinator Kemaritiman masih tetap terus memantau, dan akan terus menyampaikan informasi perkembangannya," ujarnya.
Aktivitas Menurun
Badan Geologi Kementerian ESDM juga mencatat aktivitas GAK terus menurun pada Jumat (28/12) pukul 14.18 WIB.
Penurunan tersebut ditandai dengan berhentinya letusan asap. "Kemarin (Jumat) sore itu, terlihat dan terkonfirmasi bahwa Gunung Anak Krakatau jauh lebih kecil dari sebelumnya," ujar Antonius.
Antonius menambahkan letusan GAK yang terjadi saat ini bersifat impulsif, yakni tidak ada asap keluar meski tetap aktif.
Meski begitu, warga masih diimbau untuk tetap berada pada jarak aman minimal 5 kilometer dari lokasi karena statusnya masih di level III atau Siaga.
"Disarankan tidak masuk ke kompleks Krakatau," imbuhnya.
Nelayan Lampung Saksikan Gunung Anak Krakatau Terbelah hingga Picu Tsunami
Kejadian detik-detik Gunung Anak Krakatau terbelah lalu tsunami muncul di Selat Sunda, Sabtu (22/12/2018), ternyata disaksikan oleh nelayan asal Lampung.
Adalah nelayan bernama Puji (19) yang salah satunya menyaksikan peristiwa mengerikan tersebut.
Saat itu, Puji sedang mencari ikan bersama 14 nelayan lainnya yang sempat camping di Gunung Anak Krakatau sebelum tsunami.
Dari 15 nelayan, tersisa 4 termasuk Puji yang berhasil menyelamatkan diri dari tsunami dan letusan Gunung Anak Krakatau.
"Ya itu ngga ada tanda-tanda sama sekali kalau mau kejadian Gunung Anak Krakatau mau meletus. Posisi saya lagi di tengah laut, sekitar 700 meter dari Anak Krakatau lagi mencari ikan," kata Puji melansir dari Youtube Lampung TV.
Puji dan belasan nelayan lainnya memahami kondisi Gunung Anak Krakatau sedang aktif.
Tetapi, mereka tak mengira kalau Gunung Anak Krakatau akan meletus dahsyat karena situasinya seperti hari biasanya.
Puji pun melihat jelas dinding Gunung Anak Krakatau pecah dan jatuh ke laut lalu menimbulkan tsunami.
Waktu itu yang saya lihat paling jelas meletusnya bukan di bagian atas, tapi di samping. Meletusnya di bagian samping, lahar-lahar mencar semua," ujarnya.
Tsunami terjadi setelah belahan Anak Krakatau jatuh ke laut hingga menimbulkan 3 gelombang tinggi.
"Terus bagian atasnya ambruk, nah 5 menit kemudian timbul ombak tsunami. Ada 3 ombak itu yang besar dan yang paling besar ombak ketiga," katanya.
Menurut Puji, tingginya gelombang tsunami di tengah laut mencapai 12 meter.
Gelombang tsunami itu lantas menghancurkan perahu Puji dan nelayan lainnya.
Beruntungnya, mereka masih bisa mengapung di tengah laut menggunakan bongkahan perahu.
(Tribun Lampung Dedi Sutomo)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/ilustrasi-gempa-bumi1.jpg)