Minimnya Kunjungan ke Museum Perjoangan Bogor, 90 Persen Datang karena 'Paksaan'

Jika melihat sekilas dari luar, gedung Belanda yang masih kokoh berdiri itu memang tak begitu mencolok dibanding bangunan lain di sekitarnya.

Penulis: Tsaniyah Faidah | Editor: Ardhi Sanjaya
TribunnewsBogor.com/Tsaniyah Faidah
Suasan Museum Perjuangan, Kota Bogor tampak sepi tak ada pengunjung 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Tsaniyah Faidah

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Minta kunjungan ke Museum Perjoangan di Jalan Merdeka, Ciwaringin, Kota Bogor kian menurun.

Jika melihat sekilas dari luar, gedung Belanda yang masih kokoh berdiri itu memang tak begitu mencolok dibanding bangunan lain di sekitarnya.

Padahal, saat melangkah masuk ke dalam museum, atmosfer semangat perjuangan langsung dirasakan.

Di dalamnya, terdapat banyak koleksi pembuktian bahwa pernah ada tumpah darah di wilayah Bogor demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Di lantai dasar terdapat koleksi senjata api seperti pistol, senapan, granat, ranjau, senapan mesin, mortir dengan berbagai kaliber, hingga bambu runcing asli.

Sementara di lantai dua museum, ada berbagai benda pusaka dan koleksi baju para pejuang yang lusuh dan kotor sebagaimana aslinya dahulu dipakai oleh para pejuang, satu di antaranya adalah baju asli peninggalan Kapten TB Muslihat yang gugur di Kota Bogor.

Namun sayang, dibalik sakralnya nilai sejarah di tempat tersebut, kondisi Museum Perjoangan Bogor justru begitu sepi dari kunjungan.

Bahkan ketika TribunnewsBogor.com datang ke sana, praktis tidak ada satu pun pengunjung yang datang.

Padahal, lokasinya berada di tengah pusat keramaian yang setiap hari hilir mudik masyarakat melintas.

Pemandu Museum Perjoangan Bogor, Ben (71) mengatakan, pengunjung terbanyak umumnya merupakan rombongan study tour anak sekolah dan mahasiswa.

"90 persennya pengunjung yang datang itu karena kewajiban tugas saja, seperti anak-anak sekolah sama yang mau mengerjakan skripsi. 10 persen kebawah karena kesadaran sendiri," kata dia, Kamis (21/11/2019).

Ben mengakui, jika tak banyak anak muda yang datang dengan kesadaran sendiri untuk belajar dan mengenang sejarah di museum ini.

Hal tersebut, menurut dia, karena anak muda saat ini kurang tertarik dan dirasa membosankan untuk mempelajari sejarah .

Biasanya pengunjung yang datang lebih kepada orang tua yang membawa anak-anaknya datang berkunjung sambil diperkenalkan para pejuang yang gugur demi kemerdekaan Indonesia.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved