Teror Virus Corona

Dianggap Menghina oleh Terawan, Ini Jawaban Professor Harvard soal Riset Virus Corona

Marc Lipsitch mengaku bahwa ia tidak pernah bermaksud ingin menyerang negara manapun termasuk Indonesia.

Dianggap Menghina oleh Terawan, Ini Jawaban Professor Harvard soal Riset Virus Corona
kolase Youtube channel Nadhira Afifa dan Kompas.com
Professor Harvard, Marc Lipsitch (kiri) menjawab tudingan dari Menteri Kesehatan Terawan (kanan) 

Anggapan 'sedang menghina' yang dilayangkan Terawan itu rupanya telah diketahui oleh Marc Lipsitch.

Dilansir TribunnewsBogor.com dari Youtube Nadhira Afifa, Marc Lipsitch lantas menjelaskan perihal maksud dari penelitiannya.

Kepada Nadhira, Marc Lipsitch mengaku bahwa tujuan dari penelitiannya adalah untuk melihat apakah kasus virus corona yang sudah terdeteksi benar-benar memperlihatkan jumlah kasus yang sebenarnya.

"Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat, kasus yang sudah terdeteksi benar-benar merepresentasikan jumlah kasus yang ada sebenarnya," ungkap Marc Lipsitch dilansir pada Jumat (14/2/2020).

Karenanya, Marc Lipsitch lantas membuat formulasi guna memasukkan data dalam matematika modelling soal riset virus corona tersebut.

Sehingga didapatkan hasil bahwa ada sekitar 14 pengunjung yang merupakan warga Wuhan perharinya di suatu negara.

"Untuk itu kami menghitung hubungan statistik antara jumlah pengunjung ke sebuah negara dengan jumlah kasus yang terjadi. Sehingga didapatkan rata-rata secara internasional yakni adanya sekitar 14 pengunjung/hari. Diasosiasikan dengan munculnya 1 kasus terdeteksi yang kami pantau selama periode penelitian kami," kata Marc Lipsitch.

Jawaban Professor Harvard soal Riset Virus Corona
Jawaban Professor Harvard soal Riset Virus Corona (Youtube channel Nadhira Afifa)

Bersandar pada formulasi tersebut, Marc Lipsitch lantas membuat kesimpulan bahwa di Indonesia seharusnya sudah memiliki kasus virus corona.

Namun hingga saat ini, Indonesia nyatanya belum mengumumkan satupun kasus akibat virus corona.

"Dengan standar tersebut, Indonesia dapat diduga sudah memiliki lima kasus, sementara nyatanya Indonesia tidak memiliki kasus," ucapnya.

Halaman
1234
Penulis: khairunnisa
Editor: Damanhuri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved