Teror Virus Corona

Erick Thohir Sebut Jumlah Pasien di Wisma Atlet Sudah 102 Orang

Erick mengaku hingga Senin malam kemarin dirinya terus memantau kondisi di Wisma Atlet Kemayoran.

Istimewa Dok PMI
Sejumlah petugas PMI berpakaian khusus melakukan penyemprotan di Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (21/3/2020). 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, pasien yang dirawat di Wisma Atlet Kemayoran terus bertambah sejak pertama kali dibuka pada Senin (23/3/2020) sore kemarin.

“Tadi pagi saya mendapat laporan langsung dari tim yang ada di Wisma Atlet, jumlah pasien sudah 102,” ujar Erick dalam video conference dengan wartawan pada Selasa (24/3/2020).

Erick mengaku hingga Senin malam kemarin dirinya terus memantau kondisi di Wisma Atlet Kemayoran.

Dia sempat risau begitu mendengar kabar bahwa pasien yang datang ke lokasi tersebut jumlahnya terus bertambah.

“Karena terus terang sampai tadi malam saya terus memantau wisma atlet, karena saya juga cukup risau ketika jumlah pasiennya dari awalnya 21 saat ini menjadi 102,” kata Erick.

Erick menjelaskan, alih fungsi Wisma Atlet Kemayoran untuk penanganan pasien virus corona merupakan langkah alternatif yang diambil pemerintah. Sebab, saat ini jumlah pasien corona terus bertambah.

“keberadaan Wisma Atlet sendiri kan ini bukan berarti gaya-gayaan, tetapi ini salah satu terobosan yang dilakukan oleh bapak presiden (Jokowi) untuk memastikan ketika ada kesulitan di lapangan, di mana banyak rumah sakit yang sudah penuh, maka ada alternatif lain,” ucap dia.

Sebelumnya, juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona Achmad Yurianto menjelaskan keberadaan rumah sakit darurat Covid-19 ini bertujuan menambah fasilitas ruang isolasi bagi para pasien yang membutuhkan perawatan di rumah sakit (RS).

“Oleh karena itu sudah barang tentu kita hanya akan merawat kasus-kasus positif yang hanya dibuktikan dengan pemeriksaan molekuler (PCR)," paparnya.

Dia pun menegaskan, pasien yang akan ditangani di sana adalah pasien yang tidak bisa melakukan isolasi mandiri di rumah dengan berbagai pertimbangan medis.

"Pasien yang perlu kita masukkan ke RS dengan catatan memang tak mungkin melaksanakan isolasi di rumah dengan berbagai pertimbangan aspek medis. Di sinilah kemudian terapi akan kita berikan dengan obat," tambah Yuri.

Editor: Vivi Febrianti
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved