Virus Corona di Bogor

Anjuran MUI Kabupaten Bogor Soal Salat Jumat : Warga di Zona Merah Tak Perlu Memaksakan

Di zona merah, penularan covid-19 bukan hanya sebagai udzur, tapi juga larangan salat Jumat yang diganti dengan salat dzuhur di rumah masing-masing.

Anjuran MUI Kabupaten Bogor Soal Salat Jumat : Warga di Zona Merah Tak Perlu Memaksakan
Kompas.com
Ilustrasi Shalat Jumat (Kompas.com) 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIBINONG - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bogor mengatakan kaum laki-laki boleh tidak menggelar salat Jumat di masjid di tengah mewabahnya virus corona atau Covid-19.

Hal itu dilakukan demi mencegah penularan virus corona atau Covid-19

"Apabila umat Islam yang tinggal di wilayah zona merah yang besar kemungkinan terjangkit Covid-19, maka umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan salat zhuhur di rumah dan tidak perlu memaksakan salat Jumat di masjid," kata Sekretaris Umum MUI Kabupaten Bogor Romli Eko dalam keterangannya, Rabu (25/3/2020).

Di zona merah, penularan covid-19 bukan hanya sebagai udzur, tapi juga larangan salat Jumat yang diganti dengan salat dzuhur di rumah masing-masing.

Dalam hal ini, kata dia, berlaku kaidah fiqih, suatu kewajiban tidak bisa ditinggalkan kecuali untuk kewajiban yang lain.

"Yang dalam hal ini adalah kewajiban menjaga jiwa," kata Romli Eko.

Sementara umat Islam yang tinggal di zona kuning, penularan covid-19 dianggap sebagai udzur dapat meninggalkan salat Jumat namun bukan dalam bentuk larangan.

Jika tetap melaksanakan salat Jumat, kewaspadaan harus ditingkatkan namun anjurannya tetap rukhshah yakni tidak mendirikan salat Jumat dan diganti dengan salat dzuhur.

Terkait udzur ini, kata Romli, tertuang dalam Hadist Riwayat Bukhori dalam Shahih Bukhari nomor 901.

"Hadist tersebut berpesan bahwa Rasulullah saw pernah memperingatkan umatnya bahwa ada toleransi untuk merubah, mengganti atau meninggalkan kewajiban apabila kewajiban tersebut harus dilakukan dengan susah payah dan mendatangkan mudharat bagi diri dan orang lain," ungkapnya.

Seperti pula yang dikemukakan oleh ulama Syaikh Ibrahim al-Bajuri dalam Hasyiyah al-Bajuri ala Fathil Qarib Li Ibn Qasim al-Ghazi juz 1 hal 212, kemudian Syaikh Abdullah ibn Abdurrahman ibn Abu Bakar Bafadhal al-Hadhrami dalam Al-Muqaddimah al-Hadhrami hlm 91 dan juga Zakariya al-Anshari, Asna al-Mathalib Syarhu Raudl ath-Thalib, Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, juz, I, hlm 215.

Penulis: Naufal Fauzy
Editor: Ardhi Sanjaya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved