Udara di Jakarta Membaik saat Pandemi Virus Corona, Ahli Beberkan Penyebabnya

Jakarta bahkan pernah muncul dalam urutan pertama kota dengan kualitas udara terburuk di dunia, tepatnya pada 29 Juli 2019.

Editor: khairunnisa
Kompas.com
Pemandangan laut dengan latar belakang gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jakarta Utara, Rabu (31/7/2019). Berdasarkan data situs penyedia peta polusi daring harian kota-kota besar di dunia AirVisual, menempatkan Jakarta pada urutan pertama kota terpolusi sedunia pada Senin (29/7) pagi dengan kualitas udara mencapai 183 atau dalam kategori tidak sehat.(KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG) 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Kamis (26/3/2020) pagi, kualitas udara DKI Jakarta masuk dalam kategori sedang.

Berdasarkan situs Air Quality Index (AQI), pukul 08.00 WIB kualitas udara menyentuh angka 82.

Pada sore hari yakni pukul 15.30 WIB, kualitas udara berada pada angka 62 dengan PM 2.5 sebesar 17,5 mg/m3.

Berdasarkan catatan Kompas.com, kualitas udara Jakarta biasanya masuk dalam kategori tidak sehat dengan indeks kualitas udara di atas 155.

Pada 22 November 2019 misalnya, indeks kualitas udara Jakarta mencapai 157.

Saat itu Jakarta berada di peringkat 11 sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di antara kota-kota besar lainnya di dunia.

Jakarta bahkan pernah muncul dalam urutan pertama kota dengan kualitas udara terburuk di dunia, tepatnya pada 29 Juli 2019.

Indeks kualitas udara di Jakarta saat itu tercatat 183, kategori tidak sehat dengan parameter konsentrasi PM 2.5 sebesar 117,3 mg/m3.

Ikut Rapid Test di GOR Pajajaran Bogor, Anggota HIPMI yang Ikut Musda Karawang Negatif Corona

Untuk Tangani Virus Corona, Pemerintah Butuh 1.500 Dokter dan 2.500 Perawat

Akibat kerja dari rumah?

Kualitas indeks udara terutama di DKI Jakarta berangsur membaik sejak diberlakukannya Work from Home (WFH) atau kerja dari rumah selama pandemi Covid-19.

Apakah benar berpengaruh? Bondan Andriyanu selaku Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia menyebutkan bahwa bisa jadi berkurangnya polusi udara adalah dampak kerja dari rumah.

“Katakanlah hari ini banyak yang sudah WFH, asumsinya sumber pencemar dari transportasi berkurang. Tapi datanya justru terjadi peningkatan PM 2.5,” tutur Bondan kepada Kompas.com, Kamis (26/3/2020).

Artinya, lanjut ia, bisa jadi ada sumber lain yang tidak bergera masih berkontribusi pada pencemaran udara.

“Misal industri, PLTU Batubara, pembakaran sampah, dan lainnya,” lanjut ia.

Bondan menyebutkan bahwa masalahnya, berkurangnya polusi dan meningkatnya kualitas indeks udara di DKI Jakarta tidak bisa dilacak sumbernya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved