Teror Virus Corona
Kasus Corona Meningkat di Korea Selatan Setelah 50 Hari Mereda, Ganjar Ingatkan: Mari Belajar
Ganjar Pranowo mengajak belajar dari kasus corona di Korea Selatan yang meningkat lagi setelah 50 hari mereda.
Penulis: Vivi Febrianti | Editor: Ardhi Sanjaya
TRIBUNNEWSBOGOR.COM — Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengajak untuk belajar dari pengalaman Korea Selatan dalam menghadapi virus corona.
Jumlah kasus positif corona di Korea Selatan diketahui sempat mereda.
Namun setelah 50 hari mereda, kasus positif kembali naik.
Hal itu dikhawatirkan akan terjadi di Indonesia yang saat ini tengah mereda.
Untuk itu, Ganjar Pranowo mengajak seluruh pihak untuk belajar dari pengalaman Korea Selatan.
Jangan sampai, kasus positif corona di Indonesia kembali naik setelah mereda.
Apalagi, saat ini pemerintah tengah bersiap menerapkan new normal di beberapa daerah di Indonesia.
Nantinya, mal, perkantoran dan sekolah akan kembali dibuka menyesuaikan aturan new normal.
Dilansir dari Kompas TV, jumlah kasus positif corona di Korea Selatan naik, setelah 50 hari mereda.
Sejumlah fasilitas publik termasuk kantor dan sekolah yang baru saja dibuka, kembali ditutup selama dua pekan mendatang.
Pusat pengendalian dan pencegahan penyakit Korea Selatan mengumumkan 79 kasus baru positif corona terdeteksi, 67 di antaranya berasal dari ibu kota Seoul, dan Bucheon.
• Data Terkini 30 Mei : Penambahan Kasus Baru Covid-19 Tersebar di 24 Provinsi, Jatim Tertinggi
• Jelang New Normal, Ini Kata Peneliti Soal Syarat Efektif Menjalani Kenormalan Baru
Peningkatan jumlah kasus baru positif korona dalam 50 hari terakhir, menyulitkan pelacakan oleh petugas kesehatan Korea Selatan, sekaligus merusak kerja keras mereka dlam menangnani pandemi corona.
Fasilitas publik kembali ditutup, dan pembatasan aktivitas warga pun kembali diberlakukan.
Wakil Menteri Kesehatan Kim Kang-lip juga mengatakan, 69 kasus infeksi selama minggu ini berasal dari klaster fasilitas logistik yang dioperasikan oleh Coupang Corp, salah satu perusahaan belanja online terbesar di negara itu, di Bucheon, sebelah barat Seoul.
Infeksi baru ini datang ketika negara itu telah memasuki fase new normal dan berupaya untuk melonggarkan aturan jarak sosial, membuka kembali sekolah-sekolah, dan mengendalikan infeksi virus baru.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC), kasus-kasus baru membawa total negara itu pada tengah malam pada hari Rabu menjadi 11.344 dengan 269 kematian.
Melalui akun Twitternya, Ganjar Pranowo mengomentari artikel berita soal kasus di Korea Selatan.
Artikel itu berjudul “Kasus Corona Kembali Meningkat di Korea Selatan, Setelah 50 Hari Mereda”,
Ganjar Pranowo pun mengajak untuk belajar dari kasus tersebut.
“Mari belajar,” tulis Ganjar Pranowo.
• Ganjar Cek Persiapan Masuk Sekolah, Yunarto Wijaya: Tak Ada Alasan untuk Membuka Ini Terburu-buru
• DKI Hingga Jawa Barat Persiapan Menuju New Normal, Ganjar Pranowo: Grafiknya Harus Turun Dulu
Sementara itu, Pemerintah Indonesia saat ini tengah menggodok wacana untuk memberlakukan new normal atau pola hidup normal baru kepada masyarakat di tengah pandemi Covid-19 yang belum mereda.
Meskipun angka kasus Covid-19 hingga Sabtu (30/5/2020), telah mencapai 25.773 kasus, dengan 557 kasus baru.
Jika melihat grafik kasus dari hari ke hari penambahan kasus baru di Indonesia, belum terlihat adanya penurunan yang signifikan hingga akhir Mei ini.
Namun, pemerintah sudah merencanakan akan kembali memberlakukan kegiatan sehari-hari seperti biasanya dengan pola normal yang baru.
Tes masih rendah
Melihat kondisi ini, ahli epidemiologi Griffith University Australia Dicky Budiman menjelaskan ada banyak pertimbangan yang harus diperhatikan dengan seksama sebelum mengambil keputusan memberlakukan new normal.
"Pada daerah-daerah yang cakupan testing-nya masih rendah apalagi dengan positive rate-nya yang masih tinggi, jangan berpikir dulu masalah untuk memberlakukan new normal pada lokasi-lokasi publik," kata Dicky dalam sebuah keterangan video yang diterima Kompas.com, Sabtu (29/5/2020).
Menurut Dicky, uji tes Covid-19 yang masih rendah itu mengindikasikan belum diketahuinya secara persis derajat keparahan atau kondisi suatu wilayah kaitannya dengan persebaran virus corona.
Untuk itu, jika suatu wilayah masih memiliki cakupan pengujian yang rendah, disarankan untuk meningkatkannya terlebih dahulu, baru kemudian mempersiapkan kebijakan new normal.
" New normal apalagi (diberlakukan di) tempat wisata, apalagi yang sifatnya melibatkan banyak masyarakat di sebuah komunitas, harus betul-betul dipertimbangkan dengan matang, karena kondisi tiap daerah berbeda dan tidak bisa hanya mengandalkan satu indikator saja," ujar Dicky.
• Jadwal Masuk Sekolah Belum Pasti, Bima Arya : Jangan Pertaruhkan Masa Depan Anak-anak Kita
• Diskusi Soal Jadwal Masuk Sekolah di Kota Bogor, Bima Arya : Tidak Semudah Membuka Pasar
Jumlah uji ideal
Beberapa daerah di Indonesia, misalnya Jawa Barat dan Aceh, disebut Dicky masih memiliki tingkat pengujian yang rendah. Lalu apa indikator tinggi, rendah, dan idealnya jumlah tes di satu wilayah?
"Idealnya, 1 persen dari total populasi di wilayah tersebut dilakukan tes, katakan lah kalau penduduknya 10 juta berarti kurang lebih 100.000 orang yang dites, total," sebut Dicky.
"Perlu diketahui juga, ini kan bukan sembarang tes untuk yang 100.000 (sampel) ini, mereka ini terutama kelompok-kelompok berisiko, kelompok-kelompok sasaran-sasaran tertentu, misalnya tenaga kesehatan," tambah dia.
Selain itu, tes yang dimaksud adalah tes yang valid menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR), sebagaimana diakui oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) efektif untuk mendeteksi Covid-19.
Sehingga, untuk pelaksanaan tes dengan metode cepat atau rapid test, tidak diperhitungkan dalam konsep ideal ini.
Sementara di Indonesia, dikutip dari Kontan (27/5/2020), sebagaimana disampaikan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas, Suharso Monoarfa jumlah tes yang dilakukan sejak Maret hingga saat ini adalah 967 per 1 juta penduduk.
Angka ini masih sangat jauh dari kata ideal, jika diambil 1 persen dari 1 juta, maka semestinya jumlah orang yang dites PCR sebanyak 10.000 dari setiap 1 juta jiwa.
Positive rate
Sasaran tepat itu berhubungan dengan istilah selanjutnya yang juga mennjadi indikator untuk diberlakukannya new normal, yakni positive rate.
"Ada indikator lain, kaitan dengan tes ini yang disebut dengan positive rate yang menjadi ukuran, pantauan, evaluasi, secara harian melihat kualitas tes kita," ucap Dicky.
Positive rate adalah hasil dari jumlah kasus positif dalam suatu hari dibagi jumlah keseluruhan orang yang diperiksa di hari yang sama.
"Idealnya ini harusnya di bawah 5 persen, idealnya. Jadi jumlah orang yang tes hasilnya positif dibagi jumlah total orang yang diperiksa, idealnya di bawah 5 persen dan stabil, misalnya persen atau 1 persen," sebut dia.
Jika angka itu sudah menunjukkan hasil yang rendah, di bawah 5 persen, artinya tes yang dilakukan sudah menyasar kelompok-kelompok yang tepat yang memang diharapkan terjaring.
"Kalau nilainya masih 20 persen, 17 persen, di atas 10 persen, apalagi naik turun harian, berarti kita harus terus meningkatkan jumlah tes (PCR) kita, cakupan tes kita. Malah bukan berarti harus berhenti di total 1 persen dari populasi, nanti kita lihat kalau ternyatapositive rate-nya masih terus tinggi, (tes harus) terus dilakukan," jelas Dicky.
Dicky menceritakan bagaimana pemerintah di Australia, terus melakukan tes meskipun positive rate-nya sudah baik. Mereka terus memperluas cakupan tes, dengan menjaring orang-orang yang dinilai potensial terinfeksi.
"Misalnya pada orang yang memiliki gejala demam, atau mungkin orang yang demamnya 1 minggu yang lalu pun dia akan periksa," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/gubernur-jawa-tengah-ganjar-pranowo-dalam-cuplikan-video.jpg)