Cerita Guru di Bogor Terapkan Pembelajaran Daring dan Luring, Nadiem Makarim : Saya Tersentuh
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadiem Makarim melakukan safari untuk menampung aspirasi para guru di Bogor.
Penulis: Lingga Arvian Nugroho | Editor: Mohamad Afkar Sarvika
Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Lingga Arvian Nugroho
TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadiem Makarim melakukan safari untuk menampung aspirasi para guru di Bogor.
Satu hari penuh Nadiem Makarim mengunjungi sekolah sekolah di kota dan kabupaten Bogor.
Mulai dari sekolah yang memiliki sarana dan prasarana serta fasilitas yang lengkap hingga sekolah yang berada di dalam sebuah gang.
Ada yang membuat Nadiem Makarim tersentuh saat mengunjungi Sekolah Muhamadiyah, di Jalan Pahlawan, Kota Bogor.
Disana Nadiem mendengarkan cerita, keluhan dan masukan dari para guru.
Satu di antaranya adalah cerita Guru Badriah yang semangat belajar teknologi ditengah usia lanjut.
Badriah menceritakan bahwa ketika mendengar pembelajaran diubah kedalam daring atau melalui online Ia sempat menarik nafas panjang.
Meski awalnya tidak mengerti cara mengakses pembelajaran online namun dengan belajar dan dibantu rekan guru lainnya akhirnya Ia bisa melakukan itu.
"Saya ditanya bu bisa enggak, bisa tapi setelah itu tidak bisa, terus saya minta tolong, tolong pak Rudi, tolong pak Lili, biarin saya ingin bisa ternyata saya jugaa," katanya.
Namun bukan hanya Badriah yang sempat mengalami kesulitan saat melakukan pelajaran daring, namun hal itu juga dirasakan orangtua murid.
Untuk mensiasati itu pihak sekolah membuat sistem luring dimana orangtua akan menjemput dan mengantarkan tugas anak ke sekolah.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Soimah guru Muhamadiyah Kota Bogor yang menyampaikan bahwa dari 100 persen siswa hanya 57 persen yang mampu melakukan daring.
Untuk memastikan proses belajar dengan baik, Soimah pun kemudian melakukan luring dengan belajar per zona di rumah siswa dengan jumlah siswa maksimal enam orang.
"Untuk yang luring walaupun saya agak waswas dengan pembelajaran membagi kelompok per zona tapi saya lakukan itu pak, punten pisan saya lakukan per zona anak dibuat kelompok yang berdekatan kita lakukan per zona," ujarnya.