Ramai soal Tes Rapid Antigen Boleh Dilakukan Sendiri, Bolehkah? Ini Penjelasan Ahli
Prosedurnya yang tampak terlihat mudah, banyak masyarakat yang menganggap tes mandiri berupa swab antigen bisa dilakukan sendiri
TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Baru-baru ini ramai masyarakat yang mempertanyakan soal tes rapid antigen yang dilakukan secara mandiri.
Hal ini juga seiring dengan banyaknya alat rapid test yang dijual di lapak-lapak online.
Seperti yang diketahui, rapid test adalah screening awal untuk melihat ada atau tidaknya Antibodi yang terbentuk setelah terpapar virus, dalam hal ini Covid-19.
Prosedurnya yang tampak terlihat mudah, banyak masyarakat yang menganggap tes mandiri berupa swab antigen bisa dilakukan sendiri dan hal itu tidak masalah, tidak seperti PCR.
Seperti pada salah satu komentar pengguna Twitter menyebutkan, tes mandiri berupa swab antigen biasa dilakukannya.
"Ga usah heran bang, kalo antigen bisa mandiri gak kayak PCR. kemarin gue di kantor tes swab antigen mandiri, colok sendiri, walaupun ada nakes yang dateng cuma kasih tau caranya untuk swab antigen mandiri. jadi gak masalah. udah gausah rame," tulis salah satu pengguna Twitter.
Baca juga: Ingat! Jangan Coba-coba Swab Antigen Sendiri, Ini Bahayanya
Benarkah tes antigen bisa dilakukan secara mandiri, sementara PCR tidak bisa?
Epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman, menjelaskan, baik PCR maupun antigen sama-sama tidak boleh dilakukan secara mandiri atau bukan dilakukan oleh ahlinya.
"Enggak sembarangan begitu. Jika seperti itu, wajar jika banyak yang false positive atau false negative. Ini kesalahan yang mendasar dari teknik atau pemahaman pemeriksaan penunjang," kata Dicky kepada Kompas.com, Sabtu (16/1/2021).
Dia menjelaskan tes-tes tersebut merupakan teknologi baru, sehingga perlu teknik tersendiri dan dimonitor oleh orang yang berkompeten.
Dicky juga mengingatkan, membaca hasil tes perlu dilakukan oleh dokter atau tenaga ahli.
Baca juga: 5 Tanda Sakit Kepala Gejala Covid-19, Simak Penjelasannya
"Di Australia sekali pun tidak ada pemeriksaan antigen sendiri. Karena berbahaya. Banyak negara maju mendasarkan rapid test antigen based on lab. Tetap ada lab walaupun kecil," kata dia.
Dihubungi terpisah, Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorokan dan Kepala-Leher, dr Wijaya Juwarna SpTHT KL, mengatakan, swab nasofaring sebaiknya dilakukan oleh tenaga ahli.
"Swab nasofaring dilakukan setelah mengikuti pelatihan swab," kata dia kepada Kompas.com, Sabtu (16/1/2021).
Baca juga: Catat, Ini Syarat Liburan ke Bali, Termasuk Harus Punya Hasil Swab Negatif H-2 Keberangkatan
Dokter Wijaya menyebutkan, ada risiko jika tes usap atau swab dilakukan mandiri oleh yang bukan ahlinya. Risiko yang mungkin terjadi misalnya perdarahan.