IPB University
Bahas Bioetanol, Pakar IPB University Sebut Masih Berputar pada Persaingan dengan Industri Pangan.
Penggunaan material lignocelulosa dalam produksi bioetanol juga dapat mengatasi kompetisi antara industri bahan bakar dan pangan.
TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Isu terkait suplai energi terutama mengenai ketahanan bioenergi nasional masih menjadi perbincangan.
Berdasarkan perspektif situasi krisis energi saat ini, pemerintah Indonesia juga berupaya untuk menggembangkan penggunaan energi alternatif yang berasal dari sumberdaya berkelanjutan.
Salah satunya adalah pembuatan bioetanol menggunakan crude palm oil, singkong, dan molasses.
Namun demikian, penggunaannya masih kalah saing dengan industri pangan.
Padahal residunya sangat berpotensi untuk menjaga stok bahan bakar alternatif.
Demi membahas topik tersebut, Departemen Teknologi Industri Pertanian (TIN) Fakultas Pertanian IPB University menggelar Webinar 2nd Generation of Bioethanol from Lignocellulosic Materials.
Kegiatan yang digelar oleh Divisi Bioindustri Departemen TIN IPB University ini berkolaborasi dengan Asosiasi Agroindustri Indonesia, Halal Science Center IPB University dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Tujuannya adalah untuk berbagi pengalaman riset dan pengetahuan terkait perkembangan energi alternatif bioetanol.
Prof Khaswar Syamsu, Ketua Divisi Bioindustri Departemen TIN IPB University menyebutkan kendala penggunaan bioethanol sebagai bahan bakar alternatif masih berputar pada persaingan dengan industri pangan.
Selain itu, biaya produksinya relatif lebih tinggi daripada bahan bakar biasa.
“Limbah agroindustri yang diistilahkan dengan lignocellulosic biomass ini cukup tersedia dengan harga yang murah dan dapat dimanfaatkan untuk menekan kompetisinya bagi kebutuhan pangan. Secara signifikan, dapat juga menurunkan biaya produksi sambil mengurangi limbah,” jelas Kepala Halal Science Center IPB University ini.
Kendala utamanya, menurutnya adalah pada prosesnya yang cukup lama dan sulit, terutama untuk menghilangkan lignin serta menghidrolisa selulosa menjadi gula.
Solusinya adalah dengan menggunakan metode Silmutaneous Saccharification and Fermentation (SSF) untuk mempercepat proses hidrolisa.
Metode tersebut ia terapkan untuk meningkatkan produksi bioethanol secara langsung dari sweet sorgumbagasse menggunakan kapang dan khamir.
Hasil penelitiannya dapat menghasilkan produk bioetanol yang lebih tinggi daripada cara konvensional.