Terjaring Aparat, Ini Cerita Pria di Bogor yang Terpaksa Jadi Pemulung Pasca Kena PHK Imbas Pandemi

Alex (50) yang terpaksa harus menerima kenyataan pahit terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari pekerjaannya di masa pandemi tahun 2020.

Penulis: Naufal Fauzy | Editor: Mohamad Afkar Sarvika
TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy
Alex (50) buruh bangunan yang alih profesi menjadi pemulung di Cibinong, Kabupaten Bogor setelah kena PHK imbas pandemi Covid-19. 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIBINONG - Pandemi Covid-19 yang merebak di Indonesia sejak 2020 berdampak ke berbagai lapisan masyarakat.

Tak terkecuali seorang buruh bangunan di Jakarta, Alex (50) yang terpaksa harus menerima kenyataan pahit terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari pekerjaannya di masa pandemi Covid-19 tahun 2020.

Pria asal Surade, Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi yang merantau ke Jakarta demi memperbaiki ekonomi keluarga ini pun terpaksa menjadi pemulung di kawasan Cibinong, Kabupaten Bogor.

"Dulu kerja bangunan di Jakarta, di-PHK saya gara-gara corona," kata Alex kepada TribunnewsBogor.com.

Sejak saat itu, Alex mengaku tak berani pulang kampung karena tak punya cukup uang untuk istri dan dua anaknya yang masih duduk di tingkat SMA dan SMP.

Alex mengaku sempat berusaha mencari pekerjaan lain sampai akhirnya mendapat pekerjaan di sebuah Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Jakarta.

"Ada mungkin sekitar 5 bulan (kerja sebagai pengurus makam), tapi gaji sedikit, gak bisa buat bawa pulang, cuma buat makan doang," kata Alex.

Untuk mencari pekerjaan lain di masa pandemi ini, Alex mengaku cukup kesulitan.

Sampai akhirnya, Alex pun memilih menjadi pemulung di kawasan Cibinong, Kabupaten Bogor.

Dengan gerobaknya, dia biasa berkeliling memungut satu demi satu sampah botol plastik dan kardus bekas bahkan sampai malam hari.

"Saya gini aja biarin aja malu juga yang penting sedikit-sedikit juga halal lah," ujarnya.

Setelah menjadi pemulung, Alex mengaku sudah bisa pulang membawa uang dua bulan sekali untuk keluarganya di kampung.

Alex mengaku bahwa bisa menjual botol plastik bekas sebesar Rp 2.500 sampai Rp 7.000 per kg tergantung kondisi.

Sedangkan kardus bekas, dia bisa menjual dengan harga Rp 3.000 per kg.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved