Breaking News

IPB University

Guru Besar IPB Ungkap Segudang Manfaat Rumput Laut : Bisa Diolah Jadi Gula hingga Bioetanol

Indonesia juga menjadi pengimpor terbesar produk olahan rumput laut terutama produk karaginan.

IPB University
Prof Uju, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Indonesia merupakan negara yang memproduksi rumput laut cottonii terbesar di dunia.

Namun, sayang Indonesia juga menjadi pengimpor terbesar produk olahan rumput laut terutama produk karaginan.

Harusnya Indonesia menjadi leader untuk industri rumput laut dan turunannya terutama untuk jenis cottonii.  

Dalam konferensi pers pra orasi ilmiah, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Prof Uju mengenalkan pendekatan biorefinery untuk mengembangkan potensi dan pemanfaatan rumput laut carrageenophyte cottonii.

“Rumput laut Kappaphycus (cottonii) selain dapat menghasilkan karaginan juga dapat menghasilkan bahan-bahan biokimia lainnya. Yakni pigmen fikoeritrin, selulosa, pupuk, bioetanol, gula serta produk biokimia lainnya yang memiliki nilai jual dan nilai tambah yang tinggi untuk industri pengolahan karaginan,” ujarnya.

Menurut Prof Uju, fikoeritrin ini banyak digunakan sebagai pewarna dalam makanan, obat-obatan, dan kosmetik.

Harganya bisa mencapai US$ 3,45-14 per miligram.

Untuk mengekstraksi pigmen fikoeritrin, umumnya dilakukan dengan maserasi pada suhu rendah.

Sehingga perlu waktu yang lama, lebih dari 24 jam.

“Kami menggunakan akselerasi ultrasonikasi untuk mengekstraksi pigmen fikoeritrin. Ternyata metode ini dapat mempersingkat waktu ekstraksi empat kali lebih cepat serta konsentrasi pigmen yang dihasilkan 1,6 kali lebih tinggi dibandingkan dengan proses maserasi biasa (proses pemurnian sederhana dengan amonium sulfat menghasilkan indek kemurnian 1,2 (food grade)). Indeks kemurnian ini masih dapat ditingkatkan untuk memperoleh indek kemurnian produk farmasi,” tutur dosen yang juga Ketua Departemen Teknologi Hasil Perairan, FPIK IPB University ini.  

Masalah dan tantangan yang lain yang muncul pada industri refined carrageenan menurutnya adalah tingginya biaya proses pemurnian karaginan.

Pemurnian menggunakan alkohol akan menghasilkan mutu karaginan yang lebih baik dan harga yang lebih mahal.

Prof Uju mengatakan bahwa proses ini membutuhkan jumlah volume alkohol yang banyak. Yaitu 1,5 – 4 kali volume filtrat ekstrak rumput laut.

“Kami mencoba menerapkan proses mikrofiltrasi. Dan inovasi ini, kami dapat mengurangi penggunaan volume alkohol 4,5-12 kali sehingga biaya produksi untuk proses presipitasi dapat dikurangi. Proses mikrofiltrasi juga secara signifikan dapat meningkatkan kemurnian refined carrageenan. Gel yang dihasilkan pun menjadi lebih kuat dan dapat memenuhi standar yang ditetapkan oleh FAO-JECFA,” terangnya.

Selain itu, di tangan Prof Uju, limbah padat karaginan (pengolahan refined carrageen) dapat diolah menjadi biosugar dan bioethanol.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved