Breaking News:

Pria Ini Rugikan Warga Rp 23 Miliar Lewat Investasi Bodong, Uangnya Kini Sisa Rp 200 Ribu

Kapolres Bogor AKBP Harun menjelaskan bahwa uang puluhan Miliar Rupiah tersebut pun telah habis digunakan pelaku.

Penulis: Naufal Fauzy | Editor: Ardhi Sanjaya
TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy
Seorang oknum guru madrasah inisial I alias Iwong di Desa Kiarasari, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor ditangkap Polres Bogor karena terlibat kasus investasi bodong. 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Naufal Fauzy

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, CIBINONG - Seorang pria inisial I alias Iwong di daerah Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor rugikan warga sampai Rp 23 Miliar lewat investasi bodong.

Oknum guru madrasah ini pun ditangkap Polres Bogor setelah para warga korbannya melapor ke polisi.

Kapolres Bogor AKBP Harun menjelaskan bahwa uang puluhan Miliar Rupiah tersebut pun telah habis digunakan pelaku.

"Uangnya habis, di rekening-rekeningnya tinggal Rp 200 Ribuan," kata AKBP Harun dalam jumpa pers di Mapolres Bogor, Kamis (23/9/2021).

Harun menjelaskan bahwa tersangka menghabiskan uang tersebut dengan membeli aset dan barang-barang.

Baca juga: Oknum Guru Madrasah di Bogor Dibekuk Polisi, Terlibat Kasus Investasi Bodong Rp 23 M

Seperti tanah seluas 3 Hektare di wilayah Sukajaya, dua unit motor, main aplikasi trading dan lain-lain.

"Sampai sekarang tersangka tidak bisa mengembalikan uang korban," kata Harun.

Harun mengatakan bahwa kasus ini masih akan dikembangkan lebih lanjut dan tidak menutup kemungkinan ada tersangka lain selain tersangka I alias Iwong ini.

Diberitakan sebelumnya, seorang oknum guru madrasah inisial I alias Iwong di Desa Kiarasari, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor ditangkap Polres Bogor karena terlibat kasus investasi bodong.

Tersangka merugikan para warga yang totalnya mencapai sekitar Rp 23,4 Miliar atas dua investasi bodong yang pelaku jalankan.

"Tersangka ini guru di Sukajaya, guru madrasah," kata AKBP Harun dalam jumpa pers di Mapolres Bogor, Kamis (23/9/2021).

Dalam kasus ini polisi menyita barang bukti berupa 3 kwitansi, 1 akta pendirian koperasi, 8 buku tabungan, 2 unit sepeda motor, 8 kartu ATM, laptop dan yang lainnya.

"Tersangka dijerat Pasal 372 maupun 378 KUHP dan pasal 46 ayat 1 UU nomor 10 tahun 1998 tentang perbankan dengan ancaman penjara minimal 5 tahun, maksimal 15 tahun dan denda minimal Rp 10 Miliar, maksimal Rp 200 Miliar," ungkap Harun.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved