Info Kesehatan

Ini Pil Antivirus yang Diklaim Ampuh Obati Covid-19, Bisakah Mengakhiri Pandemi?

Klaim tersebut didasarkan pada data uji klinis tahap III yang melibatkan 775 pasien dengan gejala Covid-19 ringan dan sedang selama lima hari

Tayang:
Editor: Tsaniyah Faidah
Tribunnews.com
Ilustrasi - Pil antivirus yang diklaim mampu mengobati Covid-19 

Saat ini, keampuhan obat tersebut baru didasarkan pada hasil uji klinis fase 1 dan 2, serta perkembangan uji klinis fase 3, yang dijadwalkan akan selesai pada pekan awal Oktober ini.

"Menurut saya akan diberikan izin ya. Karena secara data tidak ada efek samping yang mengkhawatirkan," ujar Dicky.

Baca juga: Perbedaan Paru-paru Pasien Covid-19 yang Sudah dan Belum Divaksin, Begini Kondisinya

Cara kerja Molnupiravir

Dicky menjelaskan, Molnupiravir adalah obat oral atau obat yang bisa diminum, dan berfungsi menghambat replikasi RNA virus corona di fase awal.

"Efektif sekali kalau diberikan di fase awal. Dia juga merangsang terjadinya error ketika virus sedang dalam proses memperbanyak diri," jelas dia.

Menurut Dicky, kemampuan Molnupiravir mencegah virus memperbanyak diri membuat obat tersebut sangat efektif mencegah perburukan Covid-19.

Baca juga: Perbedaan Paru-paru Pasien Covid-19 yang Sudah dan Belum Divaksin, Begini Kondisinya

Hal menjanjikan lain dari Molnupiravir adalah potensi obat tersebut berperan bukan hanya untuk terapi tetapi juga untuk profilaksis. 

"Profilaksis itu begini: 'Saya kemarin di kantor kontak dengan orang yang positif'. Ya udah minum obat ini. Itu ada potensi yang begitu. Tapi kita tunggu nanti hasil akhirnya," ujar dia.

Kemudian, Dicky juga menyebutkan bahwa Molnupiravir memiliki potensi pencegahan. 

"Itu berarti misalkan kalau nanti sudah endemi, seperti malaria. Itu di daerah endemi malaria ada aturan minum pil kina untuk mencegah malaria. Jadi ini yang dijanjikan dari Molnupiravir ini (mencegah Covid-19)," kata Dicky. 

Baca juga: Vaksinasi untuk Anak di Bawah 12 Tahun Masih Dikaji, Dr Reisa Ingatkan Perlindungan Kesehatan Anak

Namun, ia menyebutkan ada catatan kritis yang diberikan terkait kemampuan Molnupiravir dalam mencegah replikasi RNA virus corona itu.

Dicky mengatakan, ada kekhawatiran jika kemampuan tersebut juga bekerja terhadap sel-sel manusia.

"Makanya dalam catatan yang saya ketahui, dia tidak atau belum dianjurkan untuk wanita hamil," kata Dicky.

Baca juga: Punya Gejala Sama hingga Sering Tak Disadari, Ini Bedanya Flu dan Covid-19

Bisakah mengakhiri pandemi?

Dicky mengatakan, secara umum Molnupiravir memiliki kemampuan yang menjanjikan. Oleh karena itu, ia menyarankan agar Indonesia menjajaki kemungkinan untuk memproduksi obat tersebut secara generik.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved