Kesaksian Orangtua yang Anaknya 2 Tahun Ikut Kelompok Pengajian NII : Katanya Baiat Hijrah

Warga Garut, Jawa Barat belakangan dibuat heboh dengan kabar puluhan remaja dan pemuda yang diduga dibaiat organisasi Negara Islam Indonesia ( NII ).

Penulis: Damanhuri | Editor: Damanhuri
Dok Kelurahan Sukamentri
Isak tangis pecah dari orang tua anak yang terpapar paham radikal NII, di Kelurahan Sukamentri, Kecamatan Garut, Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat. 

"Kami dan semuanya akan turun ke lokasi untuk mendata dari yang 59 orang ini ada berapa anak dan ada berapa dewasa," ungkapnya.

Polisi Dalami Kasus

Polres Garut hingga saat ini masih mendalami kasus tersebut untuk mengetahui apakah kelompok tersebut menyebarkan aliran intoleransi dan radikalisme.

"Saat ini masih dilakukan pendalaman secara kolaboratif, kemudian melibatkan juga unsur dari MUI, termasuk KPAI, dari Kesbangpol, P2TP2A,” kata Kapolres Garut AKBP Wirdhanto Hadicaksono seperti dikutip dari tayangan Sapa Indonesia Akhir Pekan KOMPAS. TV, Sabtu (9/10/2021).

“Ini masih dalam pendalaman kami, apakah memang ini adalah terpapar terhadap aliran-aliran intoleransi dan radikalisme, sehingga tentunya harus betul-betul pasti dulu, kira-kira seperti apa,” sambungnya.

Baca juga: Ditangkap Polisi, Pelaku Tawuran Pelajar di Bogor Terancam 15 Tahun Penjara

Baca juga: 45 Hari Dimakamkan, Begini Kondisi Jasad Tuti dan Amalia, Tukang Gali Kubur Ungkap Kesaksian

Logo Densus 88
Logo Densus 88 (Kompas.com)

Tak hanya itu, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri juga ikut turun tangan untuk menyelidiki informasi lebih lanjut terkait kasus dugaan pem baiatan oleh kelompok NII.

“Kita sudah monitor kejadian ini dan sedang mengumpulkan informasi lebih detail,” sambung Kepala Bagian (Kabag) Bantuan Operasi  Densus 88 Antiteror Polri Kombes Pol Aswin Siregar, Kamis (7/10/2021).

Sasar Anak Muda

Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Majelis Ulama Indonesia ( MUI) Masduki Baidlowi mengatakan bahwa anak muda cenderung menyukai cara beragama secara sederhana dan hitam putih.

“Pertama karena tadi itu, logikanya sangat hitam putih. Anak-anak ini, rata-rata itu punya kecenderungan secara psikologis untuk beragama itu secara simpel. Kalau nggak boleh, ya boleh. Kalau nggak halal, ya haram, seperti itu,” kata Masduki dalam Sapa Indonesia Akhir Pekan KOMPAS TV, pagi tadi.

“Jadi tidak ada detail. Padahal agama itu lebih banyak di detail itu, bukan di hitam putihnya,” sambungnya.

Menurut Masduki, memahami secara mendalam justru butuh belajar di bagian-bagian detailnya. Termasuk memahami hubungan antara keagamaan dengan kenegaraan.

Dari kecenderungan berpikir anak muda tersebut, kelompok seperti NII masuk dan bermain di ranah praktisnya saja.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved