Protes Proyek Revitalisasi Suryakancana Bogor, Komunitas Sepakat Buat Petisi

evitalisasi kawasan Suryakancana tahap III ini yang menjadi penekanan warga kata Mardi Lim yakni mengenai dibahasnya studi kelayakan proyek secara ber

Penulis: Lingga Arvian Nugroho | Editor: Ardhi Sanjaya
TribunnewsBogor.com/Lingga Arvian Nugroho
Kondisi Jalan Suryakancana yang sedang dalam tahap revitalisasi 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Lingga Arvian Nugroho

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Proyek revitalisasi kawasan Suryakancana, Kota Bogor tahap III disoal oleh sejumlah kalangan, termasuk dari warga dan komunitas Sepakat.

Seperti diketahui komunitas Sepakat ini merupakan komunitas berbasis masyarakat yang cinta dan peduli Kota Pusaka.

Pemerhati Budaya Tionghoa Bogor Mardi Lim menjelaskan komunitas sepakat berdiri sejak tahun 2012 bertindak sebagai jembatan komunikasi antara warga dan pelaku usaha di Petjinan Bogor.

Dalam dinamika proses revitalisasi kawasan Suryakancana tahap III ini yang menjadi penekanan warga kata Mardi Lim yakni mengenai dibahasnya studi kelayakan proyek secara bersama-bersama.

"Ini adalah vital dan krusial dalam setiap kegiatan yang akan merubah tatanan masyarakat perlu dibedakan antara istilah niat dan implementasi yang lebih didasarkan atas kajian lengkap, patut disayangkan memang bila Kepusakaan Strategis Kota dan Saujana Petjinan Bogor mengalami degradasi akan sulit ke depan mengangkat heritage Bogor ke panggung dunia," ujarnya.

Saat ini Komutis sepakat juga membuat petisi yang saat ini sudah ditandatangani 709 tanda tangan.

Dalam petisi https://chng.it/qsgh2wWJ dituliskan bahwa area Lawang Seketeng, Pedati, Rangga Gading dan Kampung Cincaw di Kota Bogor adalah area pusat grosir dan eceran sembako yang sudah ada sejak masa Buitenzorg.

Diperkirakan sejak momentum diresmikannya Istana Buitenzorg (Bogor-sekarang) pada 1750, Chinese Camp (Area Petjinan) sudah berdiri.

Menurut Baba Mardi Lim yang kakeknya pernah jadi pedagang besar ikan asin sejak tahun 1920-an, area ini pernah terkenal sebagai salah satu penghasil ikan asin berkualitas terbesar hingga pasar Asia Tenggara.

”Suksesnya para pedagang grosir maupun eceran yang didominasi etnis Hokkian ini membuahkan Kongsi Membangun Kelenteng Hok Tek Bio (Vihara Dhanagun) kira-kira awal tahun 1800-an, sebagai pusat ritual, pusat sosial dan budaya saat lampau,” ujarnya.

Bahkan kawasan niaga bersejarah ini tetap menjadi salah satu pusat grosir terbesar hingga saat ini berkat Karakter Kearifan Lokal para pedagang Tionghoa Bogor yang turun temurun melanjutkan nilai-nilai ke-Pusaka-an Nir Benda yakni Kejujuran, Keuletan, Kegigihan, Kebersamaan dan Kekeluargaan dalam aktivitas niaga.

Bila merujuk kepada istilah Kota Pusaka (sim.ciptakarya.pu.go.id) yang artinya Kota yang di dalamnya terdapat Kawasan Cagar Budaya dan atau Bangunan Cagar Budaya yang memiliki nilai-nilai penting bagi kota, menempatkan penerapan kegiatan penataan dan pelestarian pusaka sebagai strategi utama pengembangan kotanya.

Kota Bogor sejak tahun 2012 ditetapkan menjadi salah satu Kota Pusaka Prioritas oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Saat ini Kawasan Pusaka ini dihadapkan pada masalah baru,yang mana Pemerintah Kota Bogor saat ini sedang melaksanakan Proyek bertajuk Revitalisasi Suryakencana tahap III.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved