Dapat Bisikan Gaib, Ibu di Brebes Tega Habisi 3 Anaknya
Ibu yang tinggal di Dukuh Sokawera, Desa Tonjong, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, itu melukai tiga anaknya.
TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Seorang ibu bernama Kanti Utami tega berbuat kejam kepada anaknya.
Ibu yang tinggal di Dukuh Sokawera, Desa Tonjong, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, itu melukai tiga anaknya.
Usut punya usut, Kanti tega menganiaya ketiga anaknya lantaran ada bisikan gaib.
Kasatreskrim Polres Brebes, AKP Syuaib Abdullah, angkat bicara terkait kasus pembunuhan tiga bocah oleh ibu kandungnya sendiri.
Baca juga: Mengaku Dapat Bisikan Gaib, Dua Tukang Bakso Malang Ditusuk Teman Sendiri di Kamar Kontrakan
Dikutip dari Tribun Jateng, AKP Syuaib Abdullah mengakui bahwa pelaku yang merupakan ibu kandung korban sudah diamankan di Polsek Tonjong.
Hingga saat ini, pelaku masih dalam perjalanan menuju Polres Brebes bersama dengan para saksi untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Sedangkan untuk kondisi kedua anak lainnya yang masih selamat, sejauh ini masih belum stabil dan dirujuk dari Puskesmas Tonjong ke RSU Siti Aminah Bumiayu.
"Korban yang meninggal anak nomor dua dengan luka gorok di bagian leher, sedangkan yang anak pertama dan ketiga masih selamat. Untuk kondisinya berangsur sadar dan stabil. Tapi untuk penanganan lebih intensif, maka kedua anak tersebut dirujuk ke RSUD Margono Purwokerto," ungkap AKP Syuaib Abdullah, pada Tribunjateng.com, Minggu (20/3/2022).
Saat ditanya apakah pelaku mengalami depresi atau tidak, AKP Syuaib menjelaskan bahwa sampai saat ini masih dalam proses penyelidikan sehingga belum bisa menyimpulkan kondisi pelaku.
Tapi sesuai keterangan pelaku, alasan mengapa ia tega melakukan penganiayaan yang berujung hilangnya nyawa salah satu anaknya karena mendapat bisikan gaib.
Adapun sesuai keterangan warga sekitar tempat kejadian perkara (TKP), keseharian pelaku tidak menunjukkan gelagat aneh atau normal seperti warga biasanya.
"Untuk pelaku apakah depresi atau tidak belum bisa kami pastikan karena masih dalam proses penyelidikan. Tapi sesuai pengakuan pelaku alasan dia melakukan aksi tersebut karena mendapat bisikan gaib," jelas AKP Syuaib Abdullah.
Menggemparkan Indonesia
Aksi Kanti Utami atau Kanti Umi menggemparkan Indonesia.
Dia dinilai sadis karena melukai anaknya sendiri.
Tak Tanggung-tanggung, tiga anak sekaligus.
Anak yang masih kecil-kecil itu dilukai dengan cara tak terduga oleh perempuan 35 tahun itu.
Momen nekat Kanti Umi itu dibongkar tetangganya sendiri di Dukuh Sokawera, Desa Tonjong, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.
Sebelum azan subuh berkumandang di hari Minggu (20/3/2022) sekira pukul 04.00 WIB, warga dikejutkan dengan suara teriakan dari dalam kontrakan Kanti Umi.
Warga histeris melihat kondisi mengenaskan di dalamnya setelah pintu didobrak.
Anak kedua pelaku, AR yang masih berusia tujuh tahun dalam keadaan tak bernyawa.
Baca juga: Dengar Bisikan Gaib, Wanita Ini Tega Habisi Teman Dekat, Suami Pelaku Sebut Istrinya Punya Ketakutan
Leher bocah itu luka parah akibat gorokan benda tajam.
Sementara anak pertama berinisial KS (10) dan anak bungsu EM (5) mengalami luka serius di bagian leher, dada, dan bagian tubuh lainnya.
Melihat pemandangan mengejutkan, tetangga buru-buru membopong korban ke rumah sakit.
Sementara seusai melakukan aksi keji kepada tiga anak kandungnya, Kanti Umi bergegas kabur ke luar rumah.
Berjam-jam berjibaku dengan Kanti Umi, warga akhirnya berhasil menangkap sang pelaku.
Dia pun digiring ke Polres Brebes.
Curhat di penjara
Kanti Umi melayangkan curhatan kepada polisi saat berada di polisi.
Mendekam di dalam sel tahanan, Kanti Umi sempat merengek minta minum ke polisi.
Video saat Kanti Umi meringkuk di penjara direkam kepolisian Polres Brebes.
"Pak air anget, Pak, saya haus," kata Kanti Umi dilansir TribunnewsBogor.com dari akun Instagram @memomedsos, Senin (21/3/2022).
Dipancing penyidik kepolisian dengan pertanyaan sederhana, Kanti Umi blak-blakan.
Kepada polisi, ibu tiga anak itu mengaku bukan orang gila.
Adapun aksi nekatnya membunuh anak kandungnya itu adalah karena luka masa lalunya.
"Saya enggak gila. Saya dari kecil sudah dikurung," ujar Kanti Umi.
"Dikurung sama siapa ?" tanya polisi.
"Semuanya, sama ibu saya," akui Kanti Umi.
Baca juga: Hilang 6 Hari di Gunung dan Tersesat di Kampung Gaib, Gibran Dengar Adzan dan Diajak Shalat oleh Jin
Mengurai alibi baru, Kanti Umi pun mengaku ingin disayang suaminya.
Ia pun mencurahkan isi hati soal kehidupan pilunya bersama suami dan anak-anaknya.
"Saya enggak gila, Pak. Saya pengin disayang sama suami. Tapi suami saya sering nganggur, saya enggak sanggup kalau kontrak kerjanya habis lagi," kata Kanti Umi seraya hendak menangis.
Alasan utama Kanti Umi ternyata dipicu karena kekhawatirannya terhadap anak-anaknya.
Kanti cemas anak-anaknya kelak akan dibentak oleh ayah mertuanya, Amin.
Ia pun merasa harus menyelamatkan anak-anaknya dari kejahatan keluarga.
"Saya mau menyelamatkan anak saya. Amin bapaknya suami saya, saya cuma mau taubat, sebelum saya mati, saya cuma mau menyelamatkan anak-anak biar enggak dibentak-bentak," ungkap Kanti Umi.
"Mendingan mati aja, enggak perlu ngerasain sedih. Harus mati biar enggak sakit kayak saya, dari kecil saya memendam puluhan tahun," sambung dia.
Sosok Kanti Umi
Tega melakukan aksi sadis bak orang tak waras, Kanti Umi ternyata pernah punya profesi bagus.
Hal tersebut diungkap oleh tetangganya bernama Sumarti.
Untuk diketahui, pada saat kejadian, Sumarti sempat menyelamatkan nyawa anak-anak Kanti Umi.
Ia bahkan sempat menolong anak pelaku yang terakhir EM karena merintih kesakitan karena menderita luka di bagian leher sampai bawahnya.
"Jujur saya masih tidak menyangka, karena keseharian pelaku ini orangnya pendiam, tidak banyak ngomong, tidak pernah duduk main ke tetangga, dan sangat sayang kepada anak-anaknya. Saya juga tidak pernah mendengar pelaku memarahi anak-anaknya, kelihatan sayang sekali. Makannya warga sini masih sangat shock," kata Sumarti dilansir TribunnewsBogor.com dari Tribun Jateng.
Diungkap Sumarti, Kanti Umi selama ini tinggal di rumah bersama bibi dan ketiga anaknya.
Sedangkan sang suami bekerja di Jakarta.
Pelaku sebelumnya juga pernah bekerja di Jakarta sebagai make up artis atau yang berkaitan dengan kecantikan, tapi karena alasan tertentu akhirnya terkena PHK dan kembali ke kampung halaman.
Tapi keduanya (pelaku dan sang suami) merupakan asli warga Desa Tonjong, kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes.
"Kemungkinan pelaku ini kaget antara kehidupan di kota besar dengan desa lalu memicu depresi. Karena orangnya juga pendiam, jarang berinteraksi dengan tetangga, tapi ya kurang tahu pasti kenapanya," imbuh Sumarti.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/ilustrasi-penganiayaan_20151217_105150.jpg)