IPB University

Tindak Kekerasan Orangtua pada Anak Meningkat, Dosen IPB University Sebut Pandemi Perparah Depresi

Terdapat beberapa faktor penyebab internal dan eksternal dari seorang individu yang mendorongnya melakukan tindak anarkis tersebut.

Editor: Tsaniyah Faidah
pixabay
Ilustrasi - Kasus tindak kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh orang tua kandung korban sendiri marak terjadi selama pandemi. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Kasus tindak kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh orang tua kandung korban sendiri marak terjadi selama pandemi.

Misalnya saja, kasus MT (30), seorang ibu yang tega menganiaya dan menghabisi ketiga orang anak kandungnya di Nias maupun kasus Kanti Utami (35), seorang ibu yang tega menganiaya dan menghabisi nyawa tiga orang anaknya sendiri dengan pisau kater, di Brebes (20/3/2022).

Dr Yulina Eva Riany, dosen Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, IPB University menyebutkan bahwa setidaknya terdapat beberapa faktor penyebab internal dan eksternal dari seorang individu yang mendorongnya melakukan tindak anarkis tersebut.

“Penyebab pertama adalah adanya tekanan jiwa dan rasa kesepian luar biasa atau loneliness, karena kurangnya interaksi. Pelaku seringkali menganggap dirinya hidup sendiri dan tidak ada orang yang peduli terhadap dirinya dan kesulitan yang dihadapinya,” ujar Dr Yulina.

Dr Yulina juga menyampaikan bahwa hal tersebut dapat diperparah dengan kondisi pandemi yang membatasi interaksi antar individu.

Sehingga, upaya mengakhiri hidupnya termasuk anak-anaknya merupakan jawaban.

Kasus Kanti Utami (35), merupakan bukti ketidakmampuannya dalam mengendalikan rasa ingin diperhatikan dan diapresiasi oleh sang suami yang dianggapnya sudah tidak peduli terhadapnya.

Kedua, imbuhnya, adanya perasaan bahwa kehadiran anak merupakan sumber masalah bagi keluarga.

Sehingga, upaya mengakhiri nyawa sering dipilih dengan anggapan bahwa kematian anak dapat meringankan beban keluarga.

Alasan ini seringkali ditemukan pada individu yang tidak sanggup dalam menghadapi kesulitan hidup kemudian mengambil langkah pendek melalui tindak anarki.

Ketiga, ialah ketidaksanggupan untuk menyaksikan anak-anak menghadapi kesakitan dan kesusahan.

Pengalaman menyakitkan sepanjang hidup dapat memicu matinya rasa takut akan rasa sakit dan kematian.

"Sehingga pelaku menganggap bahwa dengan kematian, anak-anak dapat terhindarkan dari kesakitan dan kesusahan di kemudian hari,” lanjut Dr Yulina.

Keempat, lanjutnya, kondisi sosial-ekonomi keluarga, interaksi sosial dan kontrol sosial masyarakat dinilai sebagai faktor eksternal.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved