IPB University
Pakar IPB University Sebar Wawasan Migitasi Bencana Hidrologis di Pulau-Pulau Kecil Maluku
Mitigasi pangan perlu dilakukan dalam upaya mempertahankan ketahanan pangan dan menjaga kesejahteraan petani.
Menurutnya, perkara ini dapat disebabkan oleh faktor alam maupun non alam akibat kelalaian manusia.
Berkaca pada kasus yang terjadi belakangan ini, bencana hidrologis seperti banjir, banyak terjadi di daerah yang tidak berdekatan dengan aliran sungai.
Bahkan bencana ini seolah diperlakukan seperti agenda tahunan. Masyarakat menganggapnya sebagai rutinitas sehingga memerlukan penanganan tersendiri.
Sehingga tipe penanganannya tidak bisa dipukul rata di tiap wilayah.
“Selama ini mitigasi bencana masih disusun berdasarkan fenomena alam. Bencana yang terjadi akibat kelalaian manusia kurang diperhatikan sehingga pemerintah maupun lembaga belum bisa memprediksi bencana seperti tanah longsor, abrasi dan banjir,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, pemerintah harus bisa membaca dampak riil yang berkaitan dengan ketersediaan pangan dan usaha pertanian.
Daerah yang jauh dari aliran sungai masih bisa terdampak besar.
Petani berada di posisi yang paling merugi bila penanganannya tidak tepat.
Pemetaan secara sederhana pada tahap mitigasi sudah banyak dilakukan, namun terkait pemulihannya masih terseok-seok.
“Tetapi pemulihan, rehabilitasi, dan rekonsiliasi bagaimana kehidupan petani itu bisa normal kembali ini menjadi tantangan ke depan. Perhatiannya tidak hanya pada pemulihan usaha tani, harusnya pada ketahanan petani dalam bertahan hidup,” kata Doni.
Menurutnya, pendekatan lebih terupdate mau tidak mau harus dilakukan. Data-data berbasis digital untuk memprediksi bencana dan dampaknya terhadap petani sangat diperlukan.
Perguruan tinggi maupun lembaga penelitian turut berperan untuk memunculkan inovasi tersebut.
Pemerintah daerah juga berperan menyambut inovasi tersebut agar bisa dikaji di tengah masyarakat. Sehingga dapat dihasilkan teknologi tepat guna agar dampak bencana bisa diminimalisir. (*)