IPB University

Solusi Praktis Peternak, Peneliti IPB University Ciptakan SORINFER, Pakan Komplit Berbahan Sorgum

Peneliti IPB University sukses menciptakan formula pakan komplit berbahan sorgum dan indigofera.

IPB University
Peneliti IPB University menemukan inovasi di bidang peternakan ini diberi nama SORINFER, sebuah formulasi pakan komplit berbahan sorgum dan indigofera. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Peneliti IPB University sukses menemukan formula pakan ternak yang dapat membantu peternak lebih praktis dan menguntungkan dalam usaha ternaknya.

Mereka adalah Prof Luki Abdullah, Prof Panca Dewi Manu Hara Karti, Prof Rudy Priyanto, Dr Adi Hadianto.

Inovasi di bidang peternakan ini diberi nama SORINFER, sebuah formulasi pakan komplit berbahan sorgum dan indigofera.

Inovasi ini ibarat menjadi penerang di tengah gulita kian tingginya biaya pakan yang bisa mencapai 60 hingga 70 persen dari total biaya produksi.

Rektor IPB University, Prof Arif Satria ketika meluncurkan produk SORINFER, di Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat beberapa waktu lalu mengatakan, inovasi SORINFER merupakan produk yang strategis mengingat kebutuhan pakan ruminansia di Indonesia sangat tinggi tetapi ketersediaannya masih terbatas.

Bahkan, beberapa peternak masih bergantung pada pakan rumput segar.

“Pakan ruminansia ini sangat strategis sekali, apalagi konsumsi rumput masih tinggi. Jadi inovasi yang dihasilkan ini, yaitu SORINFER, adalah inovasi yang memadukan teknologi-teknologi untuk meningkatkan kualitas pakan,” kata Prof Arif Satria.

Ia akan meminta bantuan para alumni supaya inovasi SORINFER dapat sampai ke masyarakat terutama peternak.

Dengan demikian, inovasi IPB University itu dapat dinikmati oleh masyarakat luas.

Ketua Tim Peneliti, Prof Luki Abdullah mengatakan inovasi ini diharapkan bisa menjadi penentu keberlanjutan usaha peternakan.

"Industri pakan komplit untuk ternak ruminansia di Indonesia masih belum berkembang karena terlalu kompleks dalam penyediaan bahan pakan sumber serat. Umumnya hijauan pakan diproduksi secara tradisional dan dalam skala kecil oleh peternak bukan produsen khusus," ungkapnya.

Dengan kondisi seperti ini, sebutnya, beternak menjadi lebih sulit dan tidak efisien, padahal di sisi lain minat beternak masyarakat terutama generasi milenial semakin tinggi, karena keuntungan yang menjanjikan dari bisnis ini.

“Perusahaan peternak yang pemiliknya kaum milenial cenderung lebih menyukai cara beternak yang mudah, praktis namun harus menguntungkan, “ jelasnya.

Sebagai upaya menyelesaikan masalah yang dihadapi dunia usaha peternakan yang menuntut peningkatan keuntungan dan kepraktisan beternak.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved