Mengenal Meta Rahma Dini, Perempuan Asal Kota Bogor yang Gemar Mengumpulkan Sampah Plastik

Meta Rahma Dini menjadi perempuan yang nampaknya terus peduli terhadap sampah yang berserakan.

Penulis: Rahmat Hidayat | Editor: Damanhuri
TribunnewsBogor.com/Rahmat Hidayat
Meta Rahma Dini wanita asal Kota Bogor yang sampai saat ini selalu memilih dan memisahkan sampah plastik yang berserakan, Sabtu (1/10/2022). 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Rahmat Hidayat

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, TANAH SAREAL - Meta Rahma Dini menjadi perempuan yang nampaknya terus peduli terhadap sampah yang berserakan.

Bagi sebagian orang, sampah dianggap menjadi sesuatu yang sangat menjijikan.

Ditangan perempuan asal Ciomas, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, sampah yang berserakan ini justru dipilih dan dibersihkan.

Kegiatan ini pun terus dilakukan Meta dalam 5 tahun belakangan ini.

"Untuk kegiatan ngumpulin sampah itu memang sudah dari dulu. Tapi, untuk memilih dan memisahkannya ini baru sekitaran ya kalau diperiodekan waktu lima tahunan ini," kata Meta kepada TribunnewsBogor.com, Sabtu (1/10/2022).

Sampah-sampah yang dikumpulkannya ini memang didominasi oleh sampah plastik.

Kecintaannya terhadap sampah ini, diakui Meta, berlangsung terus hingga saat ini.

Baca juga: Cerita Komar Sulap Sampah Plastik Jadi BBM Jenis Solar, Ditolak Menko Luhut Tak Membuatnya Putus Asa

Komar pria asal Pulau Pramuka, Jakarta, yang berhasil menemukan BBM Solar dari bahan dasar limbah plastik, yang di mana saat ini sedang mencoba untuk mengumpulkan 500 kilogram sampah plastik di Bogor di Kantor TribunnewsBogor, Sabtu (1/10/2022)
Komar pria asal Pulau Pramuka, Jakarta, yang berhasil menemukan BBM Solar dari bahan dasar limbah plastik, yang di mana saat ini sedang mencoba untuk mengumpulkan 500 kilogram sampah plastik di Bogor di Kantor TribunnewsBogor, Sabtu (1/10/2022) (TribunnewsBogor.com/Reynaldi Andrian Pamungkas)

Namun, dalam proses pemilihan sampah ini, diakui Meta, sempat menemui kendala.

"Pertama banget ngumpulin sampah itu sempat munculin belatung. Karena ga dibersihkan. Jadinya, muncul belatung itu," ungkapnya.

Darisitu, dirinya mulai memilih sekaligus membersihkan sampah yang dikumpulkannya.

Dengan teknin membersihkan menggunakan sabun, sampah yang dipilihnya ini tidak kembali mengeluarkan belatung.

"Dari situ mulai dibersihkan. Jadi, ga cuman dipilihin dan dipisahin. Biar gabau juga kan," ungkapnya.

Kendala itu tidak hanya cukup sampai disitu.

Dirinya, merasa kebingungan ketika mengumpulkan sampah tidak ada hasilnya.

"Dan akhirnya memang akhirnya itu di TPA pada akhirnya. Kecampur-campur juga dong. Serasa sia-sia banget. Gaada penyalurannya," tambahnya.

Harapannya, sampah yang dikumpulkan dan dipisahkan olehnya ini memang bisa menghasilkan manfaat lebih.

Pada akhirnya, dirinya menemukan suatu Yayasan di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.

Disitulah, dirinya semakin bersemangat bahwa sampah hasil pilihannya bermanfaat karena di yayasan dengan nama Rumah Literasi Hijau, sampah yang dipisahkannya ini diubah menjadi bahan bakar fosil.

"Nah, dari situ nyari-nyari kan. Akhirnya ada nih kata saya. Pas saya tanya-tanya pemilik yayasannya memang sampah yang dipilihnya ini menjadi solar untuk digunakan bagi nelayan," ungkapnya.

Dari situ lah, Meta kian bersemangat untuk memilih dan memisahkan sampah plastik yang dikumpulkannya dengan cara memungut di area tempat tinggalnya.

"Jadi makin semangat. Akhirnya sampah yang saya kumpulkan dan pisahkan ada manfaatnya. Disana diubah jadi solar," tambahnya.

Perjalanan pemisahan dan pemilihan sampah plastik ini diakui Meta memang bermula ketika dirinya peduli terhadap kebersihan lingkungan.

Dimana, semenjak SMP, dirinya mengakui sudah tidak membuang sampah sembarangan.

"Beneran saya gabuang sampah sembarangan itu dari SMP. Itu sekitaran tahun 1998 ya. 20 tahun lebih berati sampai sekarang," katanya.

Saking tidak pernah membuang sampah sembarangan, Meta pun merasa malu ketika ada orang membuang sampah sembarangan.

Bahkan, dirinya tidak segan-segan menegur ketika dirinya melihat orang membuang sampah sembarangan.

"Kalau teman-teman dekat saya memang sudah pada tahu. Jadi ga aneh. Pernah saya ada yang buang botol plastik di jalan. Saya tegur dan turun dari mobil saya. Saya kembalikan lagi sampahnya kepada pemiliknya," tambahnya.

Saking bencinya terhadap sampah itu, Meta beranggapan bahwa sampai saat ini sampah adalah aib ketika dibuang secara sembarangan.

"Pandangan saya itu adalah aib. Ketika sampah itu dibuang sembarangan. Jadi aib aja. Kasta hidup serasa rendah aja kalau buang sampah sembarangan," tandasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved