Sosok di Balik Pembuat Mesin Priolisis, Perjuangan Dimas Ubah Sampah Plastik Menjadi BBM
Bahkan, biaya yang dikeluarkan untuk membuat mesin Priolisis ini nominalnya sangat fantastis, yaitu sekitar Rp 150 juta.
Penulis: Reynaldi Andrian Pamungkas | Editor: Reynaldi Andrian Pamungkas
TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Inilah sosok di balik pengolahan sampah plastik menjadi sebuah bahan bakar minyak (BBM).
Ia adalah Dimas Bagus Wijanarko, pria asli Surabaya, Jawa Timur, yang terinspirasi dari dari kegiatan alamnya dalam pengolahan sampah plastik.
Mulanya, Dimas sekitar tahun 2009 saat mendaki gunung, dirinya bersama teman-temannya mulai sadar akan alam yang setiap dijajakinya itu selalu terdapat sampah plastik.
Sedikit demi sedikit Dimas mengumpulkan sampah plastik yang ia lewati disetiap perjalanannya mendaki gunung.
Hingga pada tahun 2012, iapun terbersit sebuah pemikiran atau ide untuk mengolah sampah plastik ini hingga tidak ada yang tersisa.
"Akhirnya dijadiin bahan bakar, ini adalah pilihan terakhir sebenarnya, bisa aja sampah plastik ini dijadiin souvenir atau yang lainnya tapi itu tetep aja jadi sampah ujung-ujungnya, kalo dijadiin BBM kan semuanya terpakai habis," ucapnya kepada TribunnewsBogor.com, di Kantor Tribunnews Bogor, Kecamatan Tanah Sereal, Kota Bogor, Rabu (5/10/2022).
Dengan ide tersebut, pada tahun 2014 Dimas seorang diri membuat mesin Priolisis generasi ke-1, yang di mana mesin tersebut merupakan alat untuk mengubah sampah plastik menjadi sebuah bahan bakar dengan cara dipanaskan hingga proses penyubliman.
Bahkan biaya yang dikeluarkan untuk membuat mesin Priolisis ini nominalnya sangat fantastis, yaitu sekitar Rp 150 juta.
Tentunya, dengan harga yang sangat besar itu Dimas membutuhkan sokongan dana untuk membiayai pembuatan mesin Priolisis ini.
Dengan ide pembuatan mesin Priolisis ini sejak tahun 2012 lalu, iapun terus berfikir dan mencoba untuk meyakinkan suatu perusahaan untuk dapat memberikan modal dalam pembuatan mesin tersebut.
Hingga akhirnya pada tahun 2014, Dimas mendapatkan bantuan dari PT Pertamina untuk pembuatan mesin Priolisis ini.
"Prosesnya itu sangat panjang sampai saya bisa dapat bantuan atau kerja sama dengan Pertamina," kata ayah kelahiran 1978 ini.
Dimas yang merupakan lulusan dari STM teknik mesin di Surabaya ini, harus belajar dari nol untuk membut mesin Priolisis tersebut.
Bahkan, menurutnya sudah puluhan kali dirinya terus mencoba dan gagal hingga akhirnya pada tahun 2014 mesin Priolisis generasi ke-1 berhasil dibuat hingga dicobanya.
Selama beberapa tahun, yang dimulai dari 2012 Dimas terus mengembangkan dan berjuang seorang diri bersama mesin Priolisisnya untuk sampah-sampah plastik ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/dimas-bagus-wijanarko-44-pembuat-mesin-priolisis-untuk-pengolahan-sampah-plastik-menjadi-bbm.jpg)