Breaking News

Dokter yang Keluarkan Surat Sakit Tanpa Periksa Pasien Bisa Kena Sanksi Etik, IDI: Hati-hati!

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mewanti-wanti anggotanya agar berhati-hati mengeluarkan surat sakit untuk pasien.

Tayang:
Editor: Vivi Febrianti
ist
ilustrasi dokter 

Setelah itu, dokter baru bisa menegakkan diagnosis. Dokter akan mengobati penyakit yang diderita sesuai dengan tata laksana.

Pun akan menentukan pasien tersebut perlu rawat inap, berobat jalan, atau cukup istirahat di rumah selama beberapa hari.

Ketentuan ini kata Beni, akan tergantung pada berat dan ringannya kondisi pasien. Setelahnya, dokter akan meresepkan obat-obatan.

"Ini rangkaian, harus dilakukan berurutan. Setelah menuliskan resep untuk ditebus, ada obat sirup pil antibiotik, dokter harus menjelaskan ini harus diminum berapa kali, termasuk menjelaskan efek samping bahwa obat ini akan berdampak pada apa dan sebagainya," tutur Beni.

Setelah melalui rangkaian pemeriksaan, dokter akan menentukan perlu dibuat surat keterangan sakit agar pasien beristirahat, atau menyatakan pasien sehat.

Lamanya surat sakit bervariasi sesuai jenis penyakit, bisa 3 hari, 5 hari, atau bahkan 1 bulan.

Biasanya, pasien membutuhkan waktu lama untuk istirahat jika menderita penyakit berat, termasuk patah tulang karena kecelakaan lalu lintas.

"Contoh pasien fraktur, kecelakaan lalu lintas, patah kakinya, dioperasi sama dokter, dokter akan menentukan ini pulih baru bisa berjalan dan aktivitas pasca operasi paling cepat 3 bulan. Tentu dokter akan memberikan (surat sakit) dengan termin 1 bulan, 1 bulan, 1 bulan," jelas Beni.

Kompas.com

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved