PAN dan Golkar Gabung Dukung Prabowo, Pengamat di Kota Bogor: Bisa Berdampak ke Partai Lain

Pengamat politik dan kebijakan publik, Yusfitriadi berikan respon terkait gabungnya PAN dan Golkar yang resmi mendukung Bacapres Prabowo di 2024.

Tayang:
Penulis: Rahmat Hidayat | Editor: Yudistira Wanne
TribunnewsBogor.com/Rahmat Hidayat
Ilustrasi Baliho Prabowo yang muncul di Kota Bogor. 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Rahmat Hidayat

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR TENGAH - Pengamat Politik dan kebijakan publik, Yusfitriadi berikan respon terkait gabungnya PAN dan Golkar yang resmi mendukung Bacapres Prabowo di 2024 mendatang.

Menurut Yusfitriadi, bergabungnya PAN dan Golkar mendukung Prabowo bisa menarik partai lain untuk bergabung.

"Setelah hari ini, partai golkar dan PAN mendeklarasikan dukungannya ke calon presiden Prabowo Subianto, maka jika koalisi ini solid, maka Prabowo sudah mendapatkan dukungan 4 partai, yakni Gerindra, PKB, Golkar, PAN. Dan sangat mungkin akan disusul oleh partai non parlemen lainnya," kata Yusfitriadi saat dihubungi TribunnewsBogor.com,

4 partai yang bergabung itu merupakan partai besar dan menengah.

Partai besar itu membuat dukungan kepada Prabowo semakin besar dan kuat.

"Sehingga sudah bisa dipastikan Prabowo sangat kuat. Sekaligus menggugurkan informasi akan adanya poros koalisi keempat dalam dukungan calon presiden dan wakil presiden," jelasnya.

Namun demikian, sampai saat ini koalisi partai politik yang saat ini mengusung Prabowo, masih belum ada yang benar-benar.

Termasuk soal dukungan sosok Cawapres yang saat ini masih belum ada untuk mendampingi Prabowo.

"PAN mengusulkan Erik Thohir sebagai cawapresnya Prabowo, termasuk sangat mungkin Golkar mengusulkan Airlangga sebagai cawapresnya Gerindra. Artinya ketika Prabowo tidak mengakomodir itu, bukan tidak mungkin mereka tidak berkoalisi dengan Prabowo atau mengusulkan pembagian kekuasaan yang lain," tambahnya.

Termasuk koalisi perubahan yang dibesut oleh Nasdem dan koalisi kebangkitan indonesia raya besutan Gerindra dan PKB.

"Demokrat bisa saja lepas dari koalisi perubahan jika AHY tidak masuk cawapres, begitupun yang terjari pada PKB mungkin saja hengkang dari KKIR jika Prabowo mengambil cawapres selain cak imin. Sama saja dengan golkar dan PAN sudah mulai "miring-miring" ke Prabowo, kedua partai tersebut mempunyai proposal yang sama yakni power sharing," jelasnya.

Namun, dirinya merasa, bahwa bergabungnya PAN dan Golkar ini secara elektabilitas politik tidak terlalu kuat.

Secara koalisi pun, PAN dan Golkar tidak terlalu kuat dalam koalisi yang dibentuk sebelumnya yakni Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) bersama PPP.

Publik bisa menilai bahwa yang dilakukan PAN dan Golkar ini sebagai langkah kekuasaan pragmatis saja.

"Saya pikir tidak signifikan. Justru bisa jadi malah tergerus. Karena sudah kuat dampaknya dihasilkan oleh Gerindra dan PKB, yang sejak awal merintis koalisi kebangkitan Indonesia raya (KKIR)," ujarnya.

"Terlebih PAN dan Golkar adalah partai yang gagal membangun koalisi di KIB bersama PPP. Malah publik akan melihat dengan jelas orientasinya adalah kekuasaan dan pragmstis saja. Sehingga ketika orientasinya dengan merapat ke Prabowo harapannya bisa menaikan elektabilitas suara partai politik, saya pikir tidak akan terjadi," tandasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved