Jadi Nama Jalan di Kota Bogor, Ini Kisah KH Abdullah Bin Nuh Ulama Karismatik Pendiri Al Ghozali

Jalan KH Abdullah Bin Nuh, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, menjadi salah satu jalan tersibuk di Kota Bogor

|
Penulis: Rahmat Hidayat | Editor: Naufal Fauzy
TribunnewsBogor.com/Rahmat Hidayat
Jalan KH Abdullah Bin Nuh, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, menjadi salah satu jalan tersibuk di Kota Bogor, Kamis (15/8/2024). 

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Rahmat Hidayat

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR BARAT - Jalan KH Abdullah Bin Nuh, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, menjadi salah satu jalan tersibuk di Kota Bogor.

Mulai dari pagi, sampai malam hari, jalan ini tidak pernah sepi oleh pengendara yang melintas.

Jalan ini juga menjadi jalan utama penghubung ke kawasan Dramaga, Kabupaten Bogor, dengan jembatan sebagai penghubungnya.

Namun, siapa sangka, nama KH Abdullah Bin Nuh nya sendiri tidak bisa dianggap sebelah mata.

KH Abdullah Bin Nuh merupakan tokoh pejuang kemerdekaan di Bogor.

Ia lahir di Cianjur pada tanggal 30 Juni 1905 dan wafat pada tanggal 26 Oktober 1987.

Selain disebut sebagai tokoh pejuang kemerdekaan, Abdullah Bin Nuh merupakan ulama besar, serta sastrawan.

“Memang, beliau pejuang ulama. Kebetulan beliau juga didikan PETA. Jadi, sempat juga dia berada di militer,” kata tim ahli cagar budaya (TACB) Kota Bogor Taufik Hasunna kepada TribunnewsBogor.com, Kamis (15/8/2024).

Berdasarkan sumber yang dibacanya, Taufik melanjutkan, Abdullah Bin Nuh ini masuk ke PETA sekitar tahun 1943 dengan pangkat Daidanco.

Saat itu, beberapa pelajar dari pesantren termasuk KH Abdullah Bin Nuh diwajibkan masuk ke PETA.

“Dididik di PETA di Kota Bogor. Didikan pesantren banyak saat itu yang tergabung,” jelasnya.

Namun, catatan perjuangan fisik KH Abdullah Bin Nuh sangat sedikit.

“Sebetulnya dia tidak sempat perjuangan fisik atau perjuangan fisiknya tidak menonjol. Karena bukan bidang dia. Catatan mengenai hal itu memang belum banyak,” ucapnya.

Meski begitu, KH Abdullah Bin Nuh ini cukup berjasa di bidang pendidikan agama di Kota Bogor.

Mama, sapaan akrabnya, di Kota Bogor mendirikan pondok pesantren Al Ghozali Kota Bogor.

Beliau pun langsung turun mengajar murid-muridnya.

Penguasaan sastra arab KH Abdullah Bin Nuh saat itu berada di atas rata-rata.

“Beliau sosok yang pandangannya moderat. Berbeda dengan tokoh ulama lainnya. Pandangan agamanya maju untuk ukuran jaman itu. Terus, lebih toleransi,” ungkapnya.

Beliau juga merangkul semua kalangan saat itu.

Maka tak aneh, nama KH Abdullah Bin Nuh menjadi nama ulama yang paling kharismatik pada jamannya.

“Untuk penamaan jalan ya saya kurang tahu. Tapi, sedikit aneh. Kenapa penamaan jalan itu ada di Simpang Yasmin. Kenapa tidak di Jalan Mawar. Karena kan peninggalan beliau di Kota Bogor ini Al Ghozali yang lokasinya ada di Mawar,” tegasnya.

Kondisi Jalan KH Abdullan Bin Nuh saat ini

Jalan ini menjadi penghubung ke beberapa wilayah salah satunya ke kawasan Dramaga, Kabupaten Bogor, maupun ke kawasan Cifor Bubulak.

Banyak persimpangan dijalan ini yang kerap menimbulkan kemacetan.

Di jalanan ini, khususnya dipersimpangan, tidak ada rambu-rambu lalu lintas yang dipasang.

“Memang jalan ini jalan hidup (aktif). Mau pagi sampai malam jalan ini gaada sepinya,” kata Nunung (36) warga yang melintas saat dijumpai TribunnewsBogor.com.

Kemacetan akibat banyaknya kendaraan bisa sampai ke Simpang Yasmin.

“Ekornya sampai situ (pertigaan Cifor) biasanya kalau ramai,” ujarnya.

Selain itu, di jalan ini terdapat jembatan yang cukup panjang.

Jembatan ini menjadi tempat favorit pemasangan atribut kampanye di masa saat ini atau masa menjelang Pilkada 2024.

Saat jaman Pilpres, beberapa kali Satpol PP Kota Bogor bersama Bawaslu melakukan penertiban alat peraga kampanye di jembatan ini.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved