Menilik Batik Organik Khas Cipaku Bogor, Ternyata Sudah Tembus Pasar Luar Negeri

Pewarnaan batik ini menggunakan bahan-bahan alami yang berasal dari tumbuhan dan limbah rumah tangga.

Penulis: Rahmat Hidayat | Editor: Damanhuri
TribunnewsBogor.com/Rahmat Hidayat
Batik Organik karya kelompok usaha bersama (KUB) Tumbuh Bersama Buni Asih Cipaku Bogor menjadi daya tarik baru dunia perbatikan dan memiliki nilai potensi UMKM yang memiliki daya jual tinggi.   

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Rahmat Hidayat

TRIBUNNEWSBOGOR.COM, BOGOR SELATAN - Batik Organik karya kelompok usaha bersama (KUB) Tumbuh Bersama Buni Asih Cipaku Bogor menjadi daya tarik baru dunia perbatikan dan memiliki nilai potensi UMKM yang memiliki daya jual tinggi.

Bukan tanpa sebab, pasalnya, batik organik ini memiliki perbedaan sendiri terutama dalam hal pewarnaannya.

Pewarnaan batik ini menggunakan bahan-bahan alami yang berasal dari tumbuhan dan limbah rumah tangga.

Wakil Direktur KUB Ana Khairani mengatakan, batik organik ini sudah diproduksi sejak tahun 2013 silam.

“Kalau untuk batik organiknya sendiri itu sudah 11 tahun lalu atau 2013. Cuman, kalau KUB nya sendiri baru ada dan diresmikan tanggal 3 Oktober 2024 lalu. Momennya bertepatan dengan hari batik nasional,” kata Ana kepada TribunnewsBogor.com.

Semenjak ada 2013, batik organik ini sudah terjual ke berbagai daerah di Indonesia.

Tidak hanya itu, batik ini juga ternyata terjual keluar negeri.

“Kalau dari dihitung tahun 2013 sudah banyak. Tapi semenjak berdirinya KUB, belum terjual karena kita ditahap ini baru sampai proses pencatingan saja,” tambahnya.

Untuk motifnya sendiri, batik organik ini memiliki tiga motif utama. Mulai dari panorama, kultur, serta kekinian.

“Panorama kita biasanya berhubungan dengan parisiwata yang ada di Kota Bogor ini. Kultur itu ke budaya, dan kekinian lebih ke menyesuaikan dengan kondisi saat ini,” tambahnya.

Jika dilihat sepintas, batik organik ini memiliki perbedaan yang mencolok dengan batik lainnya.

“Perbedaannya kita memang di kekuatan motifnya,” ungkapnya.

Batik organik ini pun kini menjadi wadah bagi para ibu-ibu atau perempuan di Buni Asih untuk berdaya dan memiliki pekerjaan.

Selain itu juga, ibu-ibu ini memiliki pengetahuan mengenai dunia perbatikan dan cara pembuatannya. Mulai dari memola sampai pemberian warna.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved