Catatan Kelam Parungpanjang Dibongkar Kapolres Bogor, Dedi Mulyadi: Ini Neraka Warga

Dedi Mulyadi Gubernur Jawa Barat terpilih terkejut mendengar catatan kelam soal Parungpanjang, Kabupaten Bogor.

Penulis: yudistirawanne | Editor: Yudistira Wanne
TribunnewsBogor.com/Muamarrudin Irfani, Tangkapan layar YouTube Dedi Mulyadi
TRUK TAMBANG - Dedi Mulyadi Gubernur Jawa Barat terpilih terkejut mendengar catatan kelam soal Parungpanjang, Kabupaten Bogor. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Dedi Mulyadi Gubernur Jawa Barat terpilih terkejut mendengar catatan kelam soal Parungpanjang, Kabupaten Bogor.

Dia terkejut usai menerima laporan berdasarkan data yang disampaikan Kapolres Bogor AKBP Rio Wahyu Anggoro.

Menurut Rio, 100 nyawa melayang di Parungpanjang selama kurun waktu dua tahun.

Ratusan warga yang meninggal dunia tersebut akibat kecelakaan lalu lintas di jalur tambang dan juga menderita sakit akibat aktifitas truk tambang.

Berdasarkan catatan yang dimiliki, Rio meminta bantuan Dedi agar permasalahan di Parungpanjang segera teratasi.

"Kami mohon bantuan pada pak Gubernur untuk masalah Parung Panjang. Selama menjadi kapolres 1 tahun 8 bulan, kasus kecelakaan yang diakibatkan lalainya pengemudi, kontur jalan yang kurang memadai, menimbulkan korban jiwa yang sangat banyak," kata Rio dikutip dari Youtube Dedi Mulyadi, Minggu (9/2/2025.).

Tak hanya itu, Kapolres Bogor juga menyebutkan masalah lain soal jalur tambang Parungpanjang.

Menurutnya, Dedi Mulyadi harus berkoordinasi dengan Pemprov Banten mengenai jam operasional truk tambang.

"Jam operasional tolong disinkronkan antara Pemprov Banten dengan Pemprov Jabar," tegasnya.

"Si penambang ketika jam operasional berbenturan dengan orang tua antar jemput anak sekolah, aktivitas masyarakat di pasar itu berbenturan bisa meningkatkan jumlah korban," kata AKBP Rio Wahyu Anggoro.

Respon Dedi Mulyadi

Mendengar cerita kelam di Parungpanjang Bogor, Dedi terkejut.

Dia menganggap bahwa Parung Panjang seperti neraka bagi warga Bogor.

"Berarti Parung Panjang itu adalah neraka bagi warga Bogor. Dia neraka di jalan raya akibat penambangan, dia neraka akibat polusi penambangan dan dampak lingkungannya," kata Dedi Mulyadi.

Dedi menjelaskan, ratusan jiwa yang pergi itu merupakan dampak akibat lambannya provinsi menangani persoalan yang terjadi di Parungpanjang.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved