Curhat Pilu Siswa Berpretasi Dapat Ranking 1 Tapi Gagal Masuk SMP Negeri, Alasannya Kejutkan Ibunda

Lagi viral di media sosial kisah seorang siswa berprestasi tapi gagal diterima di SMP Negeri. Alasannya bikin ibu dari pelajar itu terkejut.

Editor: khairunnisa
Tribun Banyumas
KISAH SPMB VIRAL: Lagi viral di media sosial kisah seorang siswa berprestasi tapi gagal diterima di SMP Negeri. Alasannya bikin ibu dari pelajar itu terkejut. 

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Viral di media sosial kisah seorang siswa berprestasi tapi gagal diterima di SMP Negeri.

Kasus seorang siswa ranking 1 gagal masuk SMP Negeri saat mengikuti SPMB lagi viral di media sosial.

Nasib siswa tersebut membuat sang ibu kecewa.

Sang ibu menilai Sistem Penerimaan Murid Baru ( SPMB) tersebut tak adil.

Hal itu lantaran nasib anaknya gagal masuk SMP pilihan padahal ranking 1 gara-gara usia.

Seperti diketahui, saat ini pelaksanaa SPMB masih berlangsung di seluruh wilayah Indonesia.

Namun, dalam pelaksanaannya tak jarang terjadi berbagai kendala yang dihadapi orangtua dan calon murid.

Seperti yang dialami oleh siswa di Banyumas, Jawa Tengah ini.

Orangtua siswa tersebut mengadukan aturan seleksi berdasarkan usia dalam SPMB 2025 tingkat SMP.

Aduan tersebut disampaikan orangtua siswa itu pada Rabu (25/6/2025) lalu.

Baca juga: Hari Ketiga SPMB di Kabupaten Bogor, Wali Murid Masih Serbu Kantor Disdik, Kesulitan Daftar Online

Dikutip dari TribunBanyumas, orangtua siswa itu meluapkan kekecewaan bahwa anaknya yang ranking 1 di sekolahnya gagal bersaing masuk SMP Negeri karena usianya lebih muda dari pendaftar lain.

Diketahui anaknya tersebut berusia 12 tahun 6 bulan tersisih oleh pendaftar lain yang usianya mencapai 13 tahun.

"Anak rangking 1 di sekolah, arepan daftar SMP susah. Hanya karena umurnya 12 tahun 6 bulan, kalah karo umur 13 tahun," tulisnya dalam laporan, dikutip dari TribunBanyumas.

Dari nasib pahit anaknya itu, sang orangtua siswa mempertanyakan esensi dari pendidikan jika seleksi masuk sekolah lebih mengutamakan faktor usia dibanding nilai akademik.

Keluhan orangtua siswa itu juga diperparah dengan lokasi tempat tinggalnya yang masuk dalam kategori kelurahan sebaran atau bukan kelurahan utama sehingga persaingan menjadi lebih ketat.

Keterangan Disdik Banyumas

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved