Sikap Juri LCC MPR Dinilai Arogan, Belum Minta Maaf Secara Pribadi, Pengamat: Merundung yang Lemah
Pengamat pendidikan mengkritik keras sikap dua juri LCC 4 Pilar MPR RI yang dinilai arogan karena tidak meminta maaf secara pribadi.
Penulis: tsaniyah faidah | Editor: Tsaniyah Faidah
Ringkasan Berita:
- Dua juri dinilai arogan karena belum menyampaikan permohonan maaf secara personal terkait kesalahan penilaian lomba.
- Sementara itu, Ketua MPR menyebut juri tidak perlu meminta maaf secara pribadi karena sudah diwakili lembaga.
- MPR RI memutuskan untuk mengulang kembali babak final LCC Empat Pilar tingkat Kalimantan Barat.
TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar tingkat provinsi di Kalimantan Barat memicu polemik panjang akibat keputusan dewan juri yang dinilai tidak adil.
Hingga saat ini, dua juri yang terlibat belum menyampaikan permohonan maaf secara pribadi.
Sikap diam kedua juri tersebut, yakni Dyastasita Widya Budi dan Indri Wahyuni, mengundang kritik tajam karena dianggap mencerminkan arogansi.
Kericuhan ini bermula dari video viral yang memperlihatkan perdebatan antara peserta Grup C dari SMAN 1 Pontianak dengan dewan juri.
Dalam sesi rebutan, Josepha Alexandra yang mewakili timnya menjawab pertanyaan mengenai mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Namun, juri menyatakan jawaban tersebut salah dan mengurangi nilai mereka sebanyak lima poin.
Kejanggalan terjadi ketika Grup B dari SMAN 1 Sambas memberikan jawaban yang sama persis dengan apa yang disampaikan Josepha.
Anehnya, juri justru menyatakan jawaban tersebut benar dan memberikan tambahan 10 poin kepada Grup B.
Meski tim SMAN 1 Pontianak langsung melayangkan protes di tempat, dewan juri menolak mendengarkan dan bersikeras bahwa keputusan mereka bersifat mutlak.
Kondisi tersebut diperparah dengan sikap pembawa acara yang menegaskan otoritas juri tidak dapat diganggu gugat.
Akibatnya, perlombaan terus berlanjut hingga SMAN 1 Sambas keluar sebagai juara pertama untuk mewakili Kalimantan Barat ke tingkat nasional.
Penilaian tersebut kemudian dinilai sebagai bentuk arogansi karena juri dianggap menutup telinga dari fakta di lapangan.
Baca juga: Sindir MPR RI Soal Tawaran Pekerjaan untuk Josepha Alexandra, Bima Yudho : Kerja Jadi Buzzer ?
Pengamat Pendidikan, Indra Charismiadji, menilai bahwa para juri seharusnya melakukan kroscek terlebih dahulu dengan panitia terkait jawaban peserta, bukan langsung bersikap otoriter.
"Saya belum melihat dari para juri yang melakukan misalnya membuat pernyataan maaf secara resmi kan begitu. Jadi sepertinya masih sangat arogan dengan keputusan mereka," ujar Indra Charismiadji dikutip dari YouTube Kompas TV pada Kamis (14/5/2026).
Muncul dugaan bahwa terdapat kendala teknis pada sistem pengeras suara yang membuat juri tidak mendengar jawaban peserta dengan jelas.
Lomba Cerdas Cermat
juri
MPR RI
Dyastasita Widya Budi
Indri Wahyuni
SMAN 1 Pontianak
Indra Charismiadji
Siti Fauziah
Ahmad Muzani
| Sindir MPR RI Soal Tawaran Pekerjaan untuk Josepha Alexandra, Bima Yudho : Kerja Jadi Buzzer ? |
|
|---|
| MPR Ulang Lomba Cerdas Cermat 2026, SMAN 1 Pontianak Tidak Ikut : Kami Tidak Maksud Anulir Hasil |
|
|---|
| Pengakuan Juri Cerdas Cermat MPR Anulir Jawaban SMAN 1 Pontianak, Singgung Soal Sound: Ada Aturannya |
|
|---|
| Kejanggalan Beasiswa MPR untuk Josepha, Disarankan Tak Diambil : Jangan Mau Dijadikan Alat Politik |
|
|---|
| Bakal Tanding Ulang Cerdas Cermat, Curhat Siswi SMAN 1 Sambas Usai Kalahkan Tim Ocha Jadi Sorotan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bogor/foto/bank/originals/Sikap-Juri-LCC-MPR-Dinilai-Arogan.jpg)